Prada Lirik Peluang Sektor Pakaian Bekas
Muhammad rifai akif
Rabu, 01 Desember 2021 - 20:46 WIB
Butik Prada di Manhattan. Foto: LANGIT7/iStock
Pewaris grup fesyen mewah Prada Lorenzo Bertelli melihat ada peluang di sektor pakaian bekas. Ia menilai pakaian bekas dapat dikembangkan baik secara internal maupun kemitraan.
“Saya tidak bisa mengungkapkan terlalu banyak tapi yang pasti barang bekas akan kami ambil sebagai peluang. Ini bisa berupa kemitraan dengan pemain atau bisa juga sesuatu yang lebih internal, atau keduanya, semacam solusi hibrida seperti untuk e-commerce," katanya.
Baca juga: Gaet Wisatawan Korea Selatan Lewat Pameran Busana Pengantin Bali
Dalam dua tiga tahun terakhir ini, ada lonjakan di pasar tas dan pakaian bekas layak pakai. Kondisi ini didorong pembeli muda yang lebih sadar lingkungan untuk mencari barang-barang kelas atas dengan harga terjangkau.
Reuters melaporkan pertumbuhan pasar pakaian bekas ini diperkirakan akan mencapai 33 miliar euro (sekira Rp536 triliun) dalam ukuran tahun ini setelah tumbuh sebesar 65 persen antara 2017 dan 2021, menurut konsultan Bain. Sementara untuk produk barang mewah baru pertumbuhannya hanya mencapai 12 persen.
Beberapa perusahaan mewah lainnya sudah menjajaki sektor ini. Awal tahun ini, konglomerat asal Prancis pemilik grup fesyen dan barang mewah Kering mengambil 5 persen saham di Vestiaire Collective, platform terkemuka untuk pakaian dan tas bekas.
Merek terkenal di bawah naungan Kering seperti Gucci juga membentuk kemitraan dengan platform purnajual The RealReal yang berbasis di Amerika Serikat pada 2020.
“Saya tidak bisa mengungkapkan terlalu banyak tapi yang pasti barang bekas akan kami ambil sebagai peluang. Ini bisa berupa kemitraan dengan pemain atau bisa juga sesuatu yang lebih internal, atau keduanya, semacam solusi hibrida seperti untuk e-commerce," katanya.
Baca juga: Gaet Wisatawan Korea Selatan Lewat Pameran Busana Pengantin Bali
Dalam dua tiga tahun terakhir ini, ada lonjakan di pasar tas dan pakaian bekas layak pakai. Kondisi ini didorong pembeli muda yang lebih sadar lingkungan untuk mencari barang-barang kelas atas dengan harga terjangkau.
Reuters melaporkan pertumbuhan pasar pakaian bekas ini diperkirakan akan mencapai 33 miliar euro (sekira Rp536 triliun) dalam ukuran tahun ini setelah tumbuh sebesar 65 persen antara 2017 dan 2021, menurut konsultan Bain. Sementara untuk produk barang mewah baru pertumbuhannya hanya mencapai 12 persen.
Beberapa perusahaan mewah lainnya sudah menjajaki sektor ini. Awal tahun ini, konglomerat asal Prancis pemilik grup fesyen dan barang mewah Kering mengambil 5 persen saham di Vestiaire Collective, platform terkemuka untuk pakaian dan tas bekas.
Merek terkenal di bawah naungan Kering seperti Gucci juga membentuk kemitraan dengan platform purnajual The RealReal yang berbasis di Amerika Serikat pada 2020.