Soekarno Ternyata Seorang Santri, Belajar dari Minang hingga Cianjur
Muhajirin
Senin, 19 Juli 2021 - 14:20 WIB
Soekarno bersama dua gurunya pendiri Perguruan Darul Funun el Abbasiyah, dua bersaudara yakni Syekh Abbas Padang Japang dan Syekh Mustafa Abdullah. (foto: historis)
Jika kita mengikuti kehidupan Presiden pertama RI Ir Soekarno lebih jauh, kehidupan Proklamator Kemerdekaan ini tidak bisa dipisahkan dengan pesantren. Selain berguru langsung kepada para Ulama, Soekarno juga sempat nyantri di Pondok Pesantren.
Saat di Bengkulu pada 1930, ia pernah berguru kepada pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor KH Zainuddin Fananie. Kala itu KH Zainuddin Fananie merupakan kader Muhammadiyah yang melebarkan sayap dakwah di daerah tersebut. KH Zainuddin Fananie pula yang menjadi saksi saat Bung Karno meminang Fatmawati.
Hari-hari berikutnya, saat Belanda mengetahui tentang Jepang telah mendarat di sepanjang pantai Sumatera dan utara Jawa, serdadu penjajah terpaksa hengkang ke Australia. Jepang lalu membawa Bung Karno menuju Padang. Saat berada di kota ini, Bung Karno benar-benar memposisikan diri sebagai seorang santri.
Mengutip dari laman ibadah.co.id, Bung Karno pernah belajar di Perguruan Darul Funun el Abbasiyah di Puncak Bakuang, Padang Japang Kabupaten Lima Puluh Kota hari ini. Lembaga pendidikan itu diasuh oleh Syekh Abbas dan Syekh Mustafa Abdullah. Kedua ulama besar itu merupakan murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Keduanya juga bersahabat dengan Syekh Abdul Karim Amrullah, ayah Buya Hamka.
Kedatangan Bung Karno ke Darul Funun untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Kala itu, Syekh Abbas menyarankan bahwa negara yang hendak didirikan harus berdasar ketuhanan. Dalam catatan sejarah, konsep ini diadopsi oleh Soekarno dalam Pancasila. Bung Karno mengusulkan “ketuhanan” masuk dalam Pancasila, yang kemudian hari disepakati menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” pada sila pertama.
Selain dua ulama besar itu, Bung Karno juga pernah belajar kepada Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung, KH Abdul Mu’thi dari Madiun, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari di Jombang dan KH Ahmad Basyari di Sukanegara, Cianjur.
Dalam sebuah buletin Oposisi edisi 7 yang terbit perdana pada Maret 2005, KH Ahmad Basyari adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Basyariyah, Sukanagara pada 1911. Usai menimba ilmu dari KH Hasyim Asy’ari, dia mendirikan pesantren di Kampung Cikuruh, Desa Sukanagara, Cianjur. Pesantren itu kini dikenal dengan Pesantren Al-Basyariyah.
Saat di Bengkulu pada 1930, ia pernah berguru kepada pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor KH Zainuddin Fananie. Kala itu KH Zainuddin Fananie merupakan kader Muhammadiyah yang melebarkan sayap dakwah di daerah tersebut. KH Zainuddin Fananie pula yang menjadi saksi saat Bung Karno meminang Fatmawati.
Hari-hari berikutnya, saat Belanda mengetahui tentang Jepang telah mendarat di sepanjang pantai Sumatera dan utara Jawa, serdadu penjajah terpaksa hengkang ke Australia. Jepang lalu membawa Bung Karno menuju Padang. Saat berada di kota ini, Bung Karno benar-benar memposisikan diri sebagai seorang santri.
Mengutip dari laman ibadah.co.id, Bung Karno pernah belajar di Perguruan Darul Funun el Abbasiyah di Puncak Bakuang, Padang Japang Kabupaten Lima Puluh Kota hari ini. Lembaga pendidikan itu diasuh oleh Syekh Abbas dan Syekh Mustafa Abdullah. Kedua ulama besar itu merupakan murid ulama Minangkabau terkemuka di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Keduanya juga bersahabat dengan Syekh Abdul Karim Amrullah, ayah Buya Hamka.
Kedatangan Bung Karno ke Darul Funun untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Kala itu, Syekh Abbas menyarankan bahwa negara yang hendak didirikan harus berdasar ketuhanan. Dalam catatan sejarah, konsep ini diadopsi oleh Soekarno dalam Pancasila. Bung Karno mengusulkan “ketuhanan” masuk dalam Pancasila, yang kemudian hari disepakati menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” pada sila pertama.
Selain dua ulama besar itu, Bung Karno juga pernah belajar kepada Sang Alif atau Raden Mas Panji Sosrokartono yang sudah mukim di Bandung, KH Abdul Mu’thi dari Madiun, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari di Jombang dan KH Ahmad Basyari di Sukanegara, Cianjur.
Dalam sebuah buletin Oposisi edisi 7 yang terbit perdana pada Maret 2005, KH Ahmad Basyari adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Basyariyah, Sukanagara pada 1911. Usai menimba ilmu dari KH Hasyim Asy’ari, dia mendirikan pesantren di Kampung Cikuruh, Desa Sukanagara, Cianjur. Pesantren itu kini dikenal dengan Pesantren Al-Basyariyah.