home edukasi & pesantren

Stop Audism, Begini Etika Saat Berinteraksi dengan Kaum Tuli

Kamis, 02 Desember 2021 - 18:15 WIB
Ilustrasi disabilitas tuli berbicara dengan bahasa isyarat (foto: langit7.id/istock)
Aktivis tuli sekaligus juru bahasa isyarat, Panji Surya Putra Sahetapy mengajak masyarakat untuk berhenti melanggengkan audism, sebuah pemikiran yang menganggap orang yang dapat mendengar lebih superior dibanding orang tuli. Menyetop audism merupakan salah satu cara menghargai orang-orang tuli.

Surya mencontohkan beberapa sikap audism yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Di antaranya tuli tidak mampu mencapai level orang dengar dalam berintelektual, berbahasa, berkarir, berkemampuan finansial, berkomunikasi dan lain-lain.

Baca Juga: LP Ma'arif PBNU: Indonesia Belum Ramah Disabilitas

Audism menganggap bahwa orang tuli yang tidak bisa bicara, tidak berhak menjalani aktivitas selayaknya orang normal sehingga tidak punya masa depan. Audism juga menuntut orang tuli harus bisa mengikuti orang normal dalam berbicara dan menganggap bahasa isyarat membuat orang malas berbicara.

Kemudian, orang tuli yang tidak pakai alat bantu dengar, dianggap tidak akan sukses. Celakanya, semua orang tuli harus dipaksa latihan berbicara supaya pintar dan sukses.

“Tipe orang memiliki sikap diskriminatif seperti ini biasa disebut audist,” kata Surya melalui akun instagramnya, dikutip Kamis (2/12/2021).

Dia menjelaskan alasan munculnya audism di kalangan orang kebanyakan karena sistem pendidikan dan sosial memisahkan tuli dan non disabilitas dalam kehidupan. Kebanyakan orang non tuli baru memahami tuli pada usia dewasa. Apalagi sangat sedikit yang memahami bahasa isyarat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
disabilitas komunitas tuli penyandang disabilitas tuli
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya