Aeshnina, Muslimah Cilik Greta Thunberg-nya Indonesia Protes Pencemaran Lingkungan di Forum Dunia
Mahmuda attar hussein
Jum'at, 03 Desember 2021 - 08:03 WIB
Aeshnina Azzahra saat menghadiri salah satu forum internasional (foto: Instagram/@aeshnina)
Indonesia masih menjadi negara tujuan impor terkait permasalahan sampah plastik dan kertas. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, setiap tahunnya terdapat sekitar 30 persen sampah plastik dan 50 persen sampah kertas datang dari luar negeri.
Ternyata, permasalahan sampah ini juga menjadi sorotan bagi muslimah asal Gresik, Aeshnina Azzahra Aqilani. Sebagai aktivis lingkungan, nama bocah berusia 14 tahun itu mulai dikenal hingga di tingkat internasional. Kini gadis aktivis lingkungan di level dunia tidak hanya Greta Thunberg dari Swedia, tapi juga ada Aeshnina dari Gresik, Indonesia.
Hal itu berkat ketegasannya dalam merespon permasalahan sampah impor di Indonesia. Bahkan, terakhir kali ia sempat menjadi pembicara di forum Plastic Health Summit 2021 di Belanda, Oktober lalu.
Baca Juga:Hamish Daud Kenalkan Aplikasi Distribusi Sampah Daur Ulang
"Yang mendorong saya menjadi aktivis: karakter, pengetahuan, kepedulian, solidaritas, dan aksi," kata muslimah yang biasa disapa Nina ini, dikutip dari akun instagramnya @aeshnina.
Di usia belianya yang masih menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Nina kerap kali merespon isu yang berkaitan dengan lingkungan, terutama permasalahan sampah impor.
Jiwa aktivisnya itu didapatkan dari kedua orang tuanya. Putri dari pasangan Prigi Arisandi dan Daru Rini ini telah ditanamkan rasa kepedulian yang lebih terhadap lingkungan oleh orang tuanya.
Ternyata, permasalahan sampah ini juga menjadi sorotan bagi muslimah asal Gresik, Aeshnina Azzahra Aqilani. Sebagai aktivis lingkungan, nama bocah berusia 14 tahun itu mulai dikenal hingga di tingkat internasional. Kini gadis aktivis lingkungan di level dunia tidak hanya Greta Thunberg dari Swedia, tapi juga ada Aeshnina dari Gresik, Indonesia.
Hal itu berkat ketegasannya dalam merespon permasalahan sampah impor di Indonesia. Bahkan, terakhir kali ia sempat menjadi pembicara di forum Plastic Health Summit 2021 di Belanda, Oktober lalu.
Baca Juga:Hamish Daud Kenalkan Aplikasi Distribusi Sampah Daur Ulang
"Yang mendorong saya menjadi aktivis: karakter, pengetahuan, kepedulian, solidaritas, dan aksi," kata muslimah yang biasa disapa Nina ini, dikutip dari akun instagramnya @aeshnina.
Di usia belianya yang masih menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Nina kerap kali merespon isu yang berkaitan dengan lingkungan, terutama permasalahan sampah impor.
Jiwa aktivisnya itu didapatkan dari kedua orang tuanya. Putri dari pasangan Prigi Arisandi dan Daru Rini ini telah ditanamkan rasa kepedulian yang lebih terhadap lingkungan oleh orang tuanya.