LANGIT7.ID - Indonesia masih menjadi negara tujuan impor terkait permasalahan sampah plastik dan kertas. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat, setiap tahunnya terdapat sekitar 30 persen sampah plastik dan 50 persen sampah kertas datang dari luar negeri.
Ternyata, permasalahan sampah ini juga menjadi sorotan bagi muslimah asal Gresik, Aeshnina Azzahra Aqilani. Sebagai aktivis lingkungan, nama bocah berusia 14 tahun itu mulai dikenal hingga di tingkat internasional. Kini gadis aktivis lingkungan di level dunia tidak hanya Greta Thunberg dari Swedia, tapi juga ada Aeshnina dari Gresik, Indonesia.
Hal itu berkat ketegasannya dalam merespon permasalahan sampah impor di Indonesia. Bahkan, terakhir kali ia sempat menjadi pembicara di forum Plastic Health Summit 2021 di Belanda, Oktober lalu.
Baca Juga: Hamish Daud Kenalkan Aplikasi Distribusi Sampah Daur Ulang
"Yang mendorong saya menjadi aktivis: karakter, pengetahuan, kepedulian, solidaritas, dan aksi," kata muslimah yang biasa disapa Nina ini, dikutip dari akun instagramnya @aeshnina.
Di usia belianya yang masih menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Nina kerap kali merespon isu yang berkaitan dengan lingkungan, terutama permasalahan sampah impor.
Jiwa aktivisnya itu didapatkan dari kedua orang tuanya. Putri dari pasangan Prigi Arisandi dan Daru Rini ini telah ditanamkan rasa kepedulian yang lebih terhadap lingkungan oleh orang tuanya.
Sang Ayah, Prigi, juga merupakan pendiri organisasi lingkungan, Ecoton, yang menangani permasalahan pencemaran sungai. Dari situ pula lah, keberanian dan ketegasan Nina terhadap isu lingkungan mulai tumbuh.
Seperti diketahui, dibantu ibunya pada 2019 lalu, Nina sempat melayangkan surat ke empat kedutaan negara yang sampahnya masuk ke Indonesia. Di antaranya Amerika Serikat, Kanada, Jerman, dan Australia.
Baca Juga: Dian Sastrowardoyo Pilih Project yang Angkat Isu Lingkungan
Selain itu, Nina juga terjun langsung dalam agenda
Climate Change Conference of the Parties (COP26), yang merupakan konferensi terkait iklim terbesar dan terpenting didunia.
"Hasil #cop26 memungkinkan negara maju terus mencemari lingkungan dan merusak iklim. Sementara perampasan tanah besar-besaran untuk penggantian kerugian di negara berkembang," tulis dia di instagramnya.
"Mereka tidak membahas untuk tidak menggunakan lagi bahan bakar fosil, tidak membahas menghentikan pembakaran plastik, batu bara, dan minyak bumi. Padahal itu uang kita butuhkan sekarang. Pemerintah tidak melindungi kehidupan di bumi, tapi melindungi industri bahan bakar fosil," sambungnya.
Menguatkan barisannya, Nina juga membentuk komunitas Brigade Sampah. Di mana sebagian besar anggotanya merupakan teman sesama pelajar.
Dalam komunitas itu, Nina bersama teman-temannya fokus menangani permasalahan sampah. Diketahui, komunitas ini juga cukup aktif melakukan aksi dan kampanye dalam menangani permasalahan sampah.
(jqf)