Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 04 Mei 2026
home masjid detail berita

Ketika Bumi dalam Cengkeraman Mereka yang Mengaku Membela Agama

miftah yusufpati Rabu, 06 Agustus 2025 - 05:45 WIB
Ketika Bumi dalam Cengkeraman Mereka yang Mengaku Membela Agama
Sesungguhnya rahmat-Nya mendekat kepada siapa saja yang mengikhlaskan diri, meninggalkan kerusakan, dan memilih jalan ihsan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Hanya satu ayat, tetapi gaungnya mengguncang nalar dan nurani: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-A’râf: 56)

Ayat ini seperti teguran yang tak habis masa berlakunya. Ia bersuara lantang di tengah gurun syirik, menyala di reruntuhan peradaban yang menolak kebenaran, dan menuding para penguasa yang mengaburkan batas antara ibadah dan pengkhianatan moral. Di tengah zaman ketika agama sering menjadi kendaraan ambisi atau tameng kebobrokan, ayat ini seperti obor yang menunjukkan jalan ke arah semestinya.

Dalam tafsirnya yang masyhur, Abu Ja’far ath-Thabari (w. 310 H) menjelaskan bahwa makna “kerusakan di muka bumi” tidak terbatas pada penggundulan hutan atau polusi industri. Tapi lebih dalam dari itu: syirik, maksiat, dan pembangkangan terhadap wahyu. Kerusakan spiritual, katanya, adalah bentuk kebinasaan paling awal yang menyeret kerusakan lainnya.

“Janganlah kalian menyekutukan Allah dan berbuat maksiat di bumi, karena perbuatan seperti itulah kerusakan yang sebenarnya,” ujarnya dalam Tafsîr ath-Thabari (5/515).

Baca juga: Jamkrindo Siap Perluas Layanan Penjaminan Kredit dan Lingkungan Hidup di Gorontalo

Lebih dari seribu tahun silam, Abu Bakar bin ‘Ayyâsy (w. 194 H) sudah menegaskan bahwa kerusakan terjadi saat umat meninggalkan risalah Muhammad. Dalam Tafsîr Ibnu Abi Hâtim (4/124), ia menulis: “Allah mengutus Nabi Muhammad saat dunia dalam keadaan rusak. Maka siapa pun yang menyeru kepada selain apa yang dibawa oleh Rasulullah, dialah pelaku kerusakan itu sendiri.”

Nama Tuhan yang Diseret-seret

Akal sehat seharusnya bisa membedakan antara pembangunan dan perusakan. Tapi dalam praktiknya, jargon pembangunan sering jadi selubung kerusakan yang dilegalkan. Dari konflik agraria yang menggusur ribuan petani di Jawa, reklamasi di pesisir Makassar, hingga tambang emas yang mencemari air Sungai Tumbang di Kalimantan—semuanya dibungkus dengan narasi “kemajuan” dan “keadaban”.

Ironisnya, di balik banyak kasus itu, tak jarang terselip ayat-ayat yang dibacakan untuk membuka acara peresmian. Nama Tuhan dipanggil, doa dipanjatkan, bahkan masjid dibangun di tengah proyek yang menindas.

Padahal Ibnul Qayyim (w. 751 H), dalam Badâ’i’ul Fawâid, telah memperingatkan:

“Kerusakan terbesar di muka bumi adalah menyekutukan Allah, berdoa kepada selain-Nya, dan mengagungkan yang bukan Dia.”

Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa bencana sosial, kekeringan, dan malapetaka alam hanyalah efek samping dari satu sebab utama: menyelisihi Rasulullah dan menyeru kepada selain Allah dan Rasul-Nya.

Baca juga: Jasa Marga dan Kementerian Lingkungan Hidup Kerja Sama Kelola Sampah di Rest Area

Pembangunan Tanpa Ihsan

Dalam Tafsir al-Qurthubi, ulama besar dari Andalusia menambahkan dimensi linguistik: kata “islâh” (perbaikan) digunakan dalam ayat untuk menekankan bahwa bumi ini pernah diperbaiki oleh Allah—melalui utusan-Nya, melalui tauhid, melalui hukum yang adil. Maka ketika manusia kembali merusaknya, bukan hanya sekadar ingkar, tapi mereka menghancurkan sesuatu yang sudah terbangun.

Ibnu Katsîr (w. 774 H) menyebut ini sebagai bentuk pengkhianatan spiritual yang berbahaya. Dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm (3/429), ia menulis:

“Kerusakan setelah adanya perbaikan jauh lebih berbahaya dibanding kerusakan sejak awal. Maka Allah melarang hal ini dan memerintahkan manusia untuk kembali tunduk, berdoa, dan merendahkan diri kepada-Nya.”

Inilah makna terdalam dari ayat: bahwa perbaikan sejati bukan sekadar membangun jalan atau bendungan, tetapi membangun kesadaran ihsan—berbuat baik karena merasa diawasi Tuhan.

Ayat ini juga menggambarkan psikologi spiritual Islam yang khas: berdoa dengan rasa takut dan harap. Takut akan azab, tapi tidak kehilangan harapan akan rahmat. Dua kutub ini menjadikan seorang mukmin berjalan di atas keseimbangan, tidak tergelincir ke dalam keputusasaan, dan tidak hanyut dalam kesombongan.

Dalam Taisîr Karîmir Rahmân karya Syaikh Abdurrahman as-Sa’di, disebutkan bahwa “doa adalah ibadah”, dan bahwa seluruh amalan harus disandarkan pada ikhlas, khauf (takut), dan rajâ’ (harap).

“Doa adalah bentuk penghambaan paling jujur. Di sanalah tampak seberapa rendah manusia, dan seberapa tinggi kedudukan Tuhan,” tulis Abu Bakar al-Jazâiri dalam Aysarut Tafâsîr.

Baca juga: Peringati Hari Lingkungan Hidup, BPJAMSOSTEK Gelar Aksi Bersih Pantai

Rahmat yang Dekat

Menarik bahwa di akhir ayat, Allah tidak mengatakan “rahmat-Ku akan Aku berikan” tapi: “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan.”

Dekat, tapi tidak otomatis. Dekat, tapi bersyarat. Kata qorîb digunakan dalam bentuk mudzakkar, bukan muannats, menunjukkan bahwa yang didekatkan adalah kandungan dari rahmat itu—berupa pahala, keberkahan, dan pertolongan.

“Sesungguhnya rahmat-Nya mendekat kepada siapa saja yang mengikhlaskan diri, meninggalkan kerusakan, dan memilih jalan ihsan,” simpul Ibnul Qayyim.

Hari ini, ayat ini terasa begitu relevan. Di tengah dunia yang rusak oleh kerakusan industri, fanatisme politik, dan penodaan makna ibadah—pesan sederhana ini menjelma sebagai panggilan suci:

“Jangan rusak bumi yang telah diperbaiki. Berdoalah dengan takut dan harap. Dan jadilah bagian dari orang-orang yang berbuat baik.”

Bukan mereka yang paling fasih berdoa di mimbar yang dijanjikan rahmat. Tapi mereka yang menjauhkan diri dari kerusakan, dan membaktikan hidupnya untuk ihsan—diam-diam, dalam senyap, tanpa sorotan kamera.

Baca juga: Kedubes dan Kementerian Lingkungan Hidup Norwegia Kunjungi Masjid Baitul Makmur

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 04 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)