Kisah Pilu Rumini, Korban Erupsi Semeru Wafat Sebab Tak Mau Tinggalkan Nenek
Muhajirin
Selasa, 07 Desember 2021 - 18:57 WIB
Ilustrasi karya Iky Tantra mengenang Rumini dan neneknya (foto: Facebook/Uky Tantra)
Peristiwa bencana alam erupsi Gunung Semeru menyisakan kisah pilu sekaligus inspiratif. Adalah Rumini, seorang wanita yang bertahan menghadapi letusan Semeru demi melindungi sang nenek, Salamah.
Rumini baru menginjak usia 28 tahun. Sementara sang nenek, Salamah, sudah memasuki usia lanjut, 70 tahun. Keduanya ditemukan meninggal dunia dalam keadaan berpelukan pasca erupsi Semeru menyapu kediaman mereka di Desa Curah Kobokan, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (4/12/2021).
Rumini dan Salamah menjadi korban dari 34 orang yang ditemukan meninggal dunia. Nyawanya tak tertolong setelah terkena bangunan roboh dan awan panas.
Legiman, adik ipar Salamah, menceritakan suasana Desa Curah kala letusan terjadi. Semua warga berhamburan menyelamatkan diri dari awan panas. Itu tindakan spontanitas agar kulit tak terbakar awan berwarna abu-abu itu.
Namun nahas, Salamah terlampau tua untuk berlari. Faktor usia membuat ia tak bisa berjalan lagi. Sebagai seorang cucu, Rumini tak sanggup melihat itu. Ia tak tega meninggalkan sang nenek seorang diri.
Hingga pada akhirnya, Salamah dan Rumi ditemukan tak bernyawa dalam keadaan berpelukan. Legiman yang melihat itu hanya mampu menyelamatkan jenazah korban untuk dimakamkan.
Suami dan anak Rumini selamat meski mengalami luka akibat reruntuhan bangunan rumah.
Rumini baru menginjak usia 28 tahun. Sementara sang nenek, Salamah, sudah memasuki usia lanjut, 70 tahun. Keduanya ditemukan meninggal dunia dalam keadaan berpelukan pasca erupsi Semeru menyapu kediaman mereka di Desa Curah Kobokan, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (4/12/2021).
Rumini dan Salamah menjadi korban dari 34 orang yang ditemukan meninggal dunia. Nyawanya tak tertolong setelah terkena bangunan roboh dan awan panas.
Legiman, adik ipar Salamah, menceritakan suasana Desa Curah kala letusan terjadi. Semua warga berhamburan menyelamatkan diri dari awan panas. Itu tindakan spontanitas agar kulit tak terbakar awan berwarna abu-abu itu.
Namun nahas, Salamah terlampau tua untuk berlari. Faktor usia membuat ia tak bisa berjalan lagi. Sebagai seorang cucu, Rumini tak sanggup melihat itu. Ia tak tega meninggalkan sang nenek seorang diri.
Hingga pada akhirnya, Salamah dan Rumi ditemukan tak bernyawa dalam keadaan berpelukan. Legiman yang melihat itu hanya mampu menyelamatkan jenazah korban untuk dimakamkan.
Suami dan anak Rumini selamat meski mengalami luka akibat reruntuhan bangunan rumah.