Kisah Santri Kelana Masa Kini Belajar pada Ulama Keliling Sumatera dan Jawa
Muhajirin
Rabu, 08 Desember 2021 - 23:23 WIB
Ustadz Amrizal, santri kelana masa kini berkeliling dengan sepeda berguru dari satu Ulama ke Ulama lain lintas Sumatera hingga Jawa (Dok Pribadi)
Tradisi santri berkelana berguru dari satu Ulama ke Ulama lain lazim dilakukan dahulu. Biasa disebut santri kelana. Santri kelana biasanya bermukim dalam kurun bulanan hingga tahunan di sebuah pesantren, lalu melanjutkan ke pesantren lain.
Silaturahmi ke ulama-ulama besar dalam durasi tertentu memang telah menjadi kebiasaan dalam tradisi Islam. Dalam tradisi Jawa, keberadaan santri kelana ini ditulis Ranggasutrasna, Yasadipura II, dan Sastradipura (Kiai Muhammad Ilhar) dalam mahakarya Serat Centhini. Jayengresmi, keturunan Sunan Giri, yang berkelana di Pulau Jawa, berguru ke para cendekia Jawa, mulai dari kiai hingga juru kunci makam-makam keramat.
Rekaman atas pengelanaan intelektual dan spiritual itu dikemas dengan indah dalam Serat Centhini, sebuah karya ensiklopedis Jawa yang ikonik dan apik. Perjalanan semacam ini pada zaman dulu sangat penting, sampai-sampai di depan rumah penduduk disediakan gentong besar yang berfungsi untuk minum para Ibnu Sabil itu.
“Mereka pantang meminta-minta, tapi jika diberi juga tidak menolak. Untuk kebutuhan makan minum, sebagian membawa bekal uang, ada juga yang tidak. Tapi, selalu ada kata rezeki yang digelontorkan oleh Allah bagi mereka,” kata Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyah (Inaifas) Jember, Gus Rijal Mumazziq, M.HI, melalui akun facebook-nya, dikutip Rabu (8/12/2021).
Santri Kelana Masa Kini
Gus Rijal menceritakan pertemuannya dengan Ustadz Amrizal alias Tengku Ma Taqulu, di Kantor PCNU Kencong, Jawa Timur. Ustadz Amrizal adalah santri kelana. Berangkat dari Bireun Aceh, 30 September 2020. Ia berjalan kaki selama 20 hari sampai di Medan.
Di Medan, ada pengasuh majelis taklim yang memberi Ustadz Amrizal sangu untuk dibelikan sepeda. Moda transportasi roda dua ini lalu dipakai keliling Sumatera, Jawa dan Madura. Jadi, total 14 bulan ditempuh dengan berjalan kaki dan bersepeda.
Silaturahmi ke ulama-ulama besar dalam durasi tertentu memang telah menjadi kebiasaan dalam tradisi Islam. Dalam tradisi Jawa, keberadaan santri kelana ini ditulis Ranggasutrasna, Yasadipura II, dan Sastradipura (Kiai Muhammad Ilhar) dalam mahakarya Serat Centhini. Jayengresmi, keturunan Sunan Giri, yang berkelana di Pulau Jawa, berguru ke para cendekia Jawa, mulai dari kiai hingga juru kunci makam-makam keramat.
Rekaman atas pengelanaan intelektual dan spiritual itu dikemas dengan indah dalam Serat Centhini, sebuah karya ensiklopedis Jawa yang ikonik dan apik. Perjalanan semacam ini pada zaman dulu sangat penting, sampai-sampai di depan rumah penduduk disediakan gentong besar yang berfungsi untuk minum para Ibnu Sabil itu.
“Mereka pantang meminta-minta, tapi jika diberi juga tidak menolak. Untuk kebutuhan makan minum, sebagian membawa bekal uang, ada juga yang tidak. Tapi, selalu ada kata rezeki yang digelontorkan oleh Allah bagi mereka,” kata Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyah (Inaifas) Jember, Gus Rijal Mumazziq, M.HI, melalui akun facebook-nya, dikutip Rabu (8/12/2021).
Santri Kelana Masa Kini
Gus Rijal menceritakan pertemuannya dengan Ustadz Amrizal alias Tengku Ma Taqulu, di Kantor PCNU Kencong, Jawa Timur. Ustadz Amrizal adalah santri kelana. Berangkat dari Bireun Aceh, 30 September 2020. Ia berjalan kaki selama 20 hari sampai di Medan.
Di Medan, ada pengasuh majelis taklim yang memberi Ustadz Amrizal sangu untuk dibelikan sepeda. Moda transportasi roda dua ini lalu dipakai keliling Sumatera, Jawa dan Madura. Jadi, total 14 bulan ditempuh dengan berjalan kaki dan bersepeda.