LANGIT7.ID - Tradisi santri berkelana berguru dari satu Ulama ke Ulama lain lazim dilakukan dahulu. Biasa disebut santri kelana. Santri kelana biasanya bermukim dalam kurun bulanan hingga tahunan di sebuah pesantren, lalu melanjutkan ke pesantren lain.
Silaturahmi ke ulama-ulama besar dalam durasi tertentu memang telah menjadi kebiasaan dalam tradisi Islam. Dalam tradisi Jawa, keberadaan santri kelana ini ditulis Ranggasutrasna, Yasadipura II, dan Sastradipura (Kiai Muhammad Ilhar) dalam mahakarya Serat Centhini. Jayengresmi, keturunan Sunan Giri, yang berkelana di Pulau Jawa, berguru ke para cendekia Jawa, mulai dari kiai hingga juru kunci makam-makam keramat.
Rekaman atas pengelanaan intelektual dan spiritual itu dikemas dengan indah dalam Serat Centhini, sebuah karya ensiklopedis Jawa yang ikonik dan apik. Perjalanan semacam ini pada zaman dulu sangat penting, sampai-sampai di depan rumah penduduk disediakan gentong besar yang berfungsi untuk minum para Ibnu Sabil itu.
“Mereka pantang meminta-minta, tapi jika diberi juga tidak menolak. Untuk kebutuhan makan minum, sebagian membawa bekal uang, ada juga yang tidak. Tapi, selalu ada kata rezeki yang digelontorkan oleh Allah bagi mereka,” kata Rektor Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyah (Inaifas) Jember, Gus Rijal Mumazziq, M.HI, melalui akun facebook-nya, dikutip Rabu (8/12/2021).
Santri Kelana Masa KiniGus Rijal menceritakan pertemuannya dengan Ustadz Amrizal alias Tengku Ma Taqulu, di Kantor PCNU Kencong, Jawa Timur. Ustadz Amrizal adalah santri kelana. Berangkat dari Bireun Aceh, 30 September 2020. Ia berjalan kaki selama 20 hari sampai di Medan.
Di Medan, ada pengasuh majelis taklim yang memberi Ustadz Amrizal sangu untuk dibelikan sepeda. Moda transportasi roda dua ini lalu dipakai keliling Sumatera, Jawa dan Madura. Jadi, total 14 bulan ditempuh dengan berjalan kaki dan bersepeda.
“Karena masih jomblo, Ustadz Amrizal enjoy saja keliling gowesan menjelajah pulau. Ziarah ke makam para wali di Jawa dan Madura, termasuk menziarahi pusara para Mursyid Syattariyah,” tutur Gus Rijal menceritakan.
Dalam pengelanaan itu, Ustadz Amrizal juga sowan ke beberapa ulama, meminta sanad ilmu sekaligus mencatat transmisi ruhaniah Tarekat Syattariyah. Secara khusus Ustadz Amrizal mencatat sanad-sanad Mastur yang transmisinya belum masyhur.
Di Madura, dia sowan ke KH. Luqman Haris, Saronggi, Sumenep, salah satu pemilik sanad tarekat Syattariyah dari empat jalur langka: melalui (1) Sunan Ampel, (2) Syekh Muhyi Pamijahan (1640-1715) melalui jalur Syekh Faqih Ibrahim dan Raden Kiai Bagus Saparwadi [nama ini cocok dengan jaringan ulama Syattariyah di sekitar Pangeran Diponegoro. Faqih Ibrahim Ba'abud alias Pekih Ibrahim Madiokusumo adalah Sayyid bermarga Ba'abud. Ayahnya Hasan Munadi bin Alwi Ba'abud, menantu Hamengkubuwono II]; (3) Syekh Yusuf al-Makassari.
Di Banyuwangi, yang dia kunjungi seminggu silam, dia mencatat transmisi sanad Syattariyah yang berporos pada jalur Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, serta Tarekat Akmaliyah di wilayah timur Jawa.
“Apa yang memotivasinya? Ingin menelusuri jaringan Tarekat Syattariyah dan Akmaliyah di Nusantara. Itu saja. Dan, pria berusia 27 tahun ini enteng saja menjelajah sekujur pulau Sumatera, Jawa, dan Madura,” tutur Gus Rijal.
(jqf)