Plepah, Produk Wadah Makanan yang Dukung Pembangunan Berkelanjutan
Mahmuda attar hussein
Kamis, 09 Desember 2021 - 15:05 WIB
Wadah makanan dari bahan pelepah. Foto: Kemenparekraf
Penggunaan kemasan makanan berupa styrofoam menimbulkan permasalahan sampah yang tidak hanya di tingkat nasional tapi juga internasional. Untuk itu dibutuhkan suatu inovasi dalam produk kemasan yang tidak hanya sekali pakai.
Sampah styrofoam sebagai wadah makanan sudah menjadi isu global. Di mana membutuhkan waktu 500 tahun bagi styrofoam untuk terurai oleh tanah.
Dari riset yang dilakukan Footlose Initiative di 18 kota, kontribusi sampah styrofoam sebesar 0,27 – 0,59 ton ke laut di Indonesia. Hal itu menjadi sangat mengkhawatirkan bagi biota laut.
Baca juga: Berawal dari Lapak Angkringan, Kini Punya Restoran Kopi
Dalam hal ini, Footlose Initiative menginisiasi sebuah produk wadah makanan yang lebih ramah lingkungan, yakni Plepah. Hal itu dilakukan demi mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia 2030, terutama dalam konteks ekonomi kreatif.
"Pada praktiknya produk ini dijalani berdasarkan pada community driven innovation, sehingga mencerminkan model inovasi inklusif," jelas salah satu anggota Footlose Initiative, Gamia Dewanggamanik, di acara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2021, Dubai, Selasa (7/12).
Oleh karena itu, lanjut dia, produk kreatif kriya berbahan dasar pelepah pinang ini sangatlah inovatif, adaptif, dan kolaboratif.
Sampah styrofoam sebagai wadah makanan sudah menjadi isu global. Di mana membutuhkan waktu 500 tahun bagi styrofoam untuk terurai oleh tanah.
Dari riset yang dilakukan Footlose Initiative di 18 kota, kontribusi sampah styrofoam sebesar 0,27 – 0,59 ton ke laut di Indonesia. Hal itu menjadi sangat mengkhawatirkan bagi biota laut.
Baca juga: Berawal dari Lapak Angkringan, Kini Punya Restoran Kopi
Dalam hal ini, Footlose Initiative menginisiasi sebuah produk wadah makanan yang lebih ramah lingkungan, yakni Plepah. Hal itu dilakukan demi mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia 2030, terutama dalam konteks ekonomi kreatif.
"Pada praktiknya produk ini dijalani berdasarkan pada community driven innovation, sehingga mencerminkan model inovasi inklusif," jelas salah satu anggota Footlose Initiative, Gamia Dewanggamanik, di acara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2021, Dubai, Selasa (7/12).
Oleh karena itu, lanjut dia, produk kreatif kriya berbahan dasar pelepah pinang ini sangatlah inovatif, adaptif, dan kolaboratif.