BNPB Gelar Simulasi Early Warning System di Ngawi
Muhammad rifai akif
Kamis, 09 Desember 2021 - 17:35 WIB
Suasana ruangan Gladi Simulasi Early Warning System banjir di Kantor Desa Simo, Kecamatan Kwadungan, Ngawi. (Foto: BNPB)
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Direktorat Peringatan Dini membangun sistem terintegrasi dengan melibatkan masyarakat untuk memperkuat rantai sistem peringatan dini. Geladi Simulasi Early Warning System (EWS) banjir dilakukan di Kantor Desa Simo, Kecamatan Kwadungan, Ngawi.
Direktur Peringatan Dini, Afrial Rosya, Kabupaten Ngawi merupakan salah satu dari tujuh kabupaten/kota yang mendapatkan stimulan penguatan sistem peringatan dini banjir. Pemilihan lokasi ini, mengingat ada sejumlah titik wilayah yang rawan dan berisiko banjir.
Baca juga:BNPB: Tak Ada Korban Jiwa dalam Banjir Rob di Medan
"BNPB telah melakukan Forum Group Discussion (FGD) dengan BNPB Provinsi dan Kabupaten/Kota, dalam menentukan daerah yang memiliki risiko tinggi banjir di aliran Bengawan Solo sekaligus memerlukan peringatan dini," kata Afrial dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/12).
Afrial menjelaskan rangkaian kegiatan berlangsung sejak bulan Oktober - Desember 2021. BNPB merupakan bagian dalam penguatan kontribusi pengurangan resiko bencana, dengan memberikan support berupa peralatan EWS atau sistem peringatan dini.
Dalam pengoperasiannya, Afrial menekankan perlunya sinergi dan komunikasi antar komponen struktural serta kultural yang melibatkan masyarakat. "Semoga alat ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, termasuk untuk kepentingan sosial ekonomi masyarakat setempat," ujarnya.
Baca juga:Relawan PMI Siaga Bencana di 24 Kabupaten dan Kota di Sulsel
Direktur Peringatan Dini, Afrial Rosya, Kabupaten Ngawi merupakan salah satu dari tujuh kabupaten/kota yang mendapatkan stimulan penguatan sistem peringatan dini banjir. Pemilihan lokasi ini, mengingat ada sejumlah titik wilayah yang rawan dan berisiko banjir.
Baca juga:BNPB: Tak Ada Korban Jiwa dalam Banjir Rob di Medan
"BNPB telah melakukan Forum Group Discussion (FGD) dengan BNPB Provinsi dan Kabupaten/Kota, dalam menentukan daerah yang memiliki risiko tinggi banjir di aliran Bengawan Solo sekaligus memerlukan peringatan dini," kata Afrial dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/12).
Afrial menjelaskan rangkaian kegiatan berlangsung sejak bulan Oktober - Desember 2021. BNPB merupakan bagian dalam penguatan kontribusi pengurangan resiko bencana, dengan memberikan support berupa peralatan EWS atau sistem peringatan dini.
Dalam pengoperasiannya, Afrial menekankan perlunya sinergi dan komunikasi antar komponen struktural serta kultural yang melibatkan masyarakat. "Semoga alat ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin, termasuk untuk kepentingan sosial ekonomi masyarakat setempat," ujarnya.
Baca juga:Relawan PMI Siaga Bencana di 24 Kabupaten dan Kota di Sulsel