Ketentuan Batasan Jarak Shalat Jamak dalam Perjalanan, Ini Kata Ulama
Fajar adhitya
Rabu, 15 Desember 2021 - 11:05 WIB
Keluarga dengan bayi berdiri di aula bandara saat muslim liburan. Foto: Langit7.id/iStock.
Shalat jamak berarti menggabungkan dua shalat fardhu dalam satu waktu. Jamak merupakan bentuk keringanan beribadah yang dapat dikerjakan oleh orang yang sedang bepergian.
Shalat yang boleh dijamak adalah shalat Dzuhur dengan Ashar, dan Magrib dengan Isya’. Terdaapat dua ketentuan shalat jamak, yakni jamak taqdim dan jamak ta’khir.
Jamak taqdim ialah melakukan shalat Dzuhur dan Ashar pada waktu Dzhuhur atau melakukan shalat Maghrib dan Isya’ pada waktu Maghrib. Sedangkan jamak ta’khir ialah melakukan shalat Dzuhur dan Ashar pada waktu shalat Ashar atau melakukan shalat Maghrib dan Isya’ pada waktu Isya’.
Baca Juga:Hari Kedua Ibadah Haji, Jemaah Bertolak ke Arafah Persiapan Wukuf
Mengenai masalah ketentuan jarak minimal sebuah perjalanan bisa disebut dengan safar dan mulai dibolehkan qashar shalat bagi musafir, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah lebih cenderung kepada penggunaan standar Urf/adat masing-masing daerah.
Mengapa beliau menjadikan Urf sebagai dalil penentuan batas minimal jarak safar? Sebab, menurut beliau istilah safar ini memang tidak ada nash yang secara jelas digunakan sebagai dalil untuk memaknai seberapa ketentuan jarak minimalnya. Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
Baca Juga:Bacaan Doa Keluar Rumah dan Jalan-Jalan Berlibur Akhir Pekan
Shalat yang boleh dijamak adalah shalat Dzuhur dengan Ashar, dan Magrib dengan Isya’. Terdaapat dua ketentuan shalat jamak, yakni jamak taqdim dan jamak ta’khir.
Jamak taqdim ialah melakukan shalat Dzuhur dan Ashar pada waktu Dzhuhur atau melakukan shalat Maghrib dan Isya’ pada waktu Maghrib. Sedangkan jamak ta’khir ialah melakukan shalat Dzuhur dan Ashar pada waktu shalat Ashar atau melakukan shalat Maghrib dan Isya’ pada waktu Isya’.
Baca Juga:Hari Kedua Ibadah Haji, Jemaah Bertolak ke Arafah Persiapan Wukuf
Mengenai masalah ketentuan jarak minimal sebuah perjalanan bisa disebut dengan safar dan mulai dibolehkan qashar shalat bagi musafir, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah lebih cenderung kepada penggunaan standar Urf/adat masing-masing daerah.
Mengapa beliau menjadikan Urf sebagai dalil penentuan batas minimal jarak safar? Sebab, menurut beliau istilah safar ini memang tidak ada nash yang secara jelas digunakan sebagai dalil untuk memaknai seberapa ketentuan jarak minimalnya. Syaikh Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:
Baca Juga:Bacaan Doa Keluar Rumah dan Jalan-Jalan Berlibur Akhir Pekan