Varietas Kacang Tunggak, Alternatif Kedelai pada Industri Tempe
Mahmuda attar hussein
Senin, 20 Desember 2021 - 07:03 WIB
Ilustrasi kacang tunggak untuk bahan tempe. Foto: Langit7
Kacang tunggak merupakan komoditas pertanian yang belum banyak dikenal oleh masyarakat luas. Padahal kacang lokal ini sangat potensial. Baik dari segi produktivitas, kandungan gizi, hingga pengembangannya.
Prof Muhamad Syukur, Guru Besar Agronomi dan Hortikultura IPB University mengatakan konsumsi kacang di Indonesia didominasi oleh kacang kedelai. Sebagian besar kacang kedelai dijadikan bahan utama dalam industri tempe dan tahu. Kebutuhannya yang tinggi membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan impor kedelai.
Baca juga: Inovasi dan Kualitas Rasa Omah Jenang, Antarkan Produknya hingga Mancanegara
Menurutnya, kacang-kacangan lokal perlu didorong sebagai alternatif pengganti kedelai. Dilihat dari sisi kandungan gizi, kedelai masih menjadi acuan. Yakni kandungan protein perlu di atas 30 persen. Sedangkan kacang tunggak hanya memiliki kandungan protein 22-30 persen.
Kandungan karbohidratnya juga lebih mirip dengan kacang hijau dengan kandungan lemak yang jauh lebih rendah dari kedelai. Sehingga perlu ada pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan kandungan proteinnya.
“Dengan kandungan karbohidratnya yang tinggi, kacang tunggak ini memiliki potensi yang mirip dengan kacang hijau. Potensi untuk dikonsumsi langsung, untuk dijadikan cemilan dan juga untuk bubur. Kacang tunggak ini bisa dijadikan pendamping kedelai maupun kacang hijau,” ungkapnya, dalam keterangan tertulis, Senin(20/12).
Baca juga: Muslimah Festival 2021, Ajang Silaturahmi dan Pengembangan Bisnis Ekonomi Syariah
Prof Muhamad Syukur, Guru Besar Agronomi dan Hortikultura IPB University mengatakan konsumsi kacang di Indonesia didominasi oleh kacang kedelai. Sebagian besar kacang kedelai dijadikan bahan utama dalam industri tempe dan tahu. Kebutuhannya yang tinggi membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan impor kedelai.
Baca juga: Inovasi dan Kualitas Rasa Omah Jenang, Antarkan Produknya hingga Mancanegara
Menurutnya, kacang-kacangan lokal perlu didorong sebagai alternatif pengganti kedelai. Dilihat dari sisi kandungan gizi, kedelai masih menjadi acuan. Yakni kandungan protein perlu di atas 30 persen. Sedangkan kacang tunggak hanya memiliki kandungan protein 22-30 persen.
Kandungan karbohidratnya juga lebih mirip dengan kacang hijau dengan kandungan lemak yang jauh lebih rendah dari kedelai. Sehingga perlu ada pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan kandungan proteinnya.
“Dengan kandungan karbohidratnya yang tinggi, kacang tunggak ini memiliki potensi yang mirip dengan kacang hijau. Potensi untuk dikonsumsi langsung, untuk dijadikan cemilan dan juga untuk bubur. Kacang tunggak ini bisa dijadikan pendamping kedelai maupun kacang hijau,” ungkapnya, dalam keterangan tertulis, Senin(20/12).
Baca juga: Muslimah Festival 2021, Ajang Silaturahmi dan Pengembangan Bisnis Ekonomi Syariah