Menelusuri Bencana Keadaban Manusia hingga Gema Pesan Semeru
Mega waty
Rabu, 22 Desember 2021 - 19:35 WIB
Founder dan Direktur Program Indonesia Care Mega Waty. Foto: Istimewa
Indonesia darurat kekerasan seksual. Seakantaglinetersebut bermakna RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual harus segera disahkan tanpa tapi. Masalahnya, meyakinkan bahwa perempuan yang selalu mendapat label inferior dalam kasta sosial dan memiliki kekhasan yang jarang dapat ditolerir, menjadi misi yang sulit.
Oleh: Mega Waty
Membuka ruang diskusi tentang perempuan akan berlangsung panjang tiada henti. Mulai dari dilema kambing hitamakibat konstruksi masyarakat, hingga validasi pelemahan yang bahkan terkonfirmasi oleh si per-empu-an itu sendiri.
Haltersebut cukup disayangkan, namun begitulah realitas. Hari ini manusia seakan diajak mengeja hingga menelaah satu persatu pemberitaan kekerasan seksual yang dilakukan sejahat-jahatnya oleh oknum.
Bahkan kekerasan dan pelecehaan terhadap perempuan dihubungkan erat dengan lingkungan pesantren. Alih-alih disandingkan hal prinsip, yaitu agama, dan pada akhirnya agama turut mendulang hadiah perspektif salah kaprah. Ibarat kata pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelangga.
Baca Juga:Pentingnya Menjaga Kewaspadaan dan Kewarasan Menuju Kehidupan Normal
Semua sangat disayangkan. Pelik sekaligus gusar tak habis pikir, akal dan hati se-visi, se-misi menolak perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dari celah manapun. Alih-alih meminta maaf, tampaknya perlu diketahui luka batin korban selalu berdampak pada trauma yang akan dibawa pada masa depan suci tidak bercela.
Oleh: Mega Waty
Membuka ruang diskusi tentang perempuan akan berlangsung panjang tiada henti. Mulai dari dilema kambing hitamakibat konstruksi masyarakat, hingga validasi pelemahan yang bahkan terkonfirmasi oleh si per-empu-an itu sendiri.
Haltersebut cukup disayangkan, namun begitulah realitas. Hari ini manusia seakan diajak mengeja hingga menelaah satu persatu pemberitaan kekerasan seksual yang dilakukan sejahat-jahatnya oleh oknum.
Bahkan kekerasan dan pelecehaan terhadap perempuan dihubungkan erat dengan lingkungan pesantren. Alih-alih disandingkan hal prinsip, yaitu agama, dan pada akhirnya agama turut mendulang hadiah perspektif salah kaprah. Ibarat kata pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelangga.
Baca Juga:Pentingnya Menjaga Kewaspadaan dan Kewarasan Menuju Kehidupan Normal
Semua sangat disayangkan. Pelik sekaligus gusar tak habis pikir, akal dan hati se-visi, se-misi menolak perbuatan yang tidak dapat dibenarkan dari celah manapun. Alih-alih meminta maaf, tampaknya perlu diketahui luka batin korban selalu berdampak pada trauma yang akan dibawa pada masa depan suci tidak bercela.