Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 Juli 2026
home global news detail berita

Pentingnya Menjaga Kewaspadaan dan Kewarasan Menuju Kehidupan Normal

redaksi Rabu, 03 November 2021 - 09:00 WIB
Pentingnya Menjaga Kewaspadaan dan Kewarasan Menuju Kehidupan Normal
Muhamad Ali, Pemerhati Human Capital Management. Foto. Langit7.id
LANGIT7.ID, Jakarta - Memasuki bulan November, dunia kembali normal. Atau tampak normal. Atau nyaris normal. Anak-anak sebagian sudah mulai masuk sekolah.

Oleh: Muhamad Ali

Kantor-kantor sudah mulai dipenuhi pegawai. Mal dan pusat perbelanjaan sudah ramai pengunjung. Restoran dan kafe sudah ramai dan beberapa tempat favorit bahkan memerlukan reservasi terlebih dahulu untuk memastikan kita memperoleh tempat. Beberapa kawan bercerita, tempat-tempat wisata sudah ramai pengunjung. Kota Bandung misalnya, sudah ramai dengan bus-bus besar dari luar kota memenuhi jalanan Kota Kembang, membuat macet di ruas-ruas jalan. Kota Jogjakarta, juga demikian. Warga lokal mulai “mengeluh” kotanya kembali macet dan ruwet lalu lintasnya. Mencari hotel atau sekadar penginapan sederhana sungguh pekerjaan yang melelahkan saking penuhnya.

Dan tiba-tiba saja kita lupa bahwa kita masih berada dalam suasana pandemi. Virus COVID-19 masih mengancam dan menjadi pemangsa nyawa manusia. Beberapa negara masih memberlakukan secara ketat akibat ancaman gelombang ketiga penyebaran virus yang sangat nyata.

Baca Juga: Ketergantungan dan Ancaman Media Sosial

Bilamana kita menyimak perbincangan ibu-ibu, muncul seberkas kekhawatiran ketika mereka harus memikirkan anak-anaknya yang akan menghadapi pertemuan tatap muka (PTM) di sekolah. Tapi kekhawatiran itu berhenti sebagai kekhawatiran, karena suasana di jalanan dan di luaran, benar-benar telah berjalan selayaknya kehidupan normal.

Pentingnya Kewaspadaan

Boleh jadi situasi pandemi memang telah bergeser dan kita dipaksa oleh kenyataan bahwa virus telah menjadi endemi, sebagaimana dinyatakan oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Long beberapa bulan lalu. Pemerintah Singapura adalah contoh yang paling awal mengajak warganya untuk bersiap-siap menghadapi endemi dan menjadikan virus COVID-19 sebagai virus-virus lainnya yang sudah eksis sebelumnya.

Baca Juga: Tentang Vaksinasi dan Kehidupan dari Pandemi ke Endemi

Namun dalam situasi transisi seperti sekarang inilah saya memandang pentingnya menjaga kewaspadaan, baik dalam skala individual, keluarga, kelompok, dan komunitas yang lebih besar. Saya melihat euforia di ruang-ruang publik yang tidak lagi menempatkan COVID-19 sebagai sesuatu yang berbahaya. Dan euforia seperti itu tentu saja sangat berbahaya. Karena kita bisa tergelincir ke dalam situasi yang sulit untuk dikendalikan, sebagaimana terjadi pada pertengahan tahun ini ketika virus COVID-19 berada pada gelombang penularan kedua yang sangat masif.

Bagaimana mengimplementasikan kewaspadaan itu? Apakah cukup hanya dengan mendengung-dengungkan dan menggaungkan kembali 5M yang sudah kita hafal di luar kepala itu? Apakah perlu suatu kebijakan yang tertentu untuk mengendalikan euforia publik menikmati kehidupan normal?

Baca Juga: Mobilitas yang Menggeliat, Ekonomi yang Masih Sekarat

Saya kira kita harus mengakui bahwa ingatan kolektif kita relatif pendek untuk menyimpan kejadian-kejadian masa lalu, bahkan untuk peristiwa-peristiwa yang baru saja berlalu seperti COVID-19 ini. Untuk itu, peringatan dalam bentuk tanda dan simbol, aturan dan perintah, peringatan dan sanksi, untuk menjaga kesadaran publik akan bahaya COVID-19 justru harus semakin diintensifkan sebagai bagian dari upaya kita menjaga kelangsungan hidup normal bersama virus. Kondisi transisi menuju normal ini terlalu besar dampaknya bilamana harus kembali lagi pada situasi dua tahun terakhir yang nyaris melumpuhkan segala sektor kehidupan.

Bagaimanapun, kehidupan yang normal adalah kerinduan bersama kita sebagai bagian dari warga pada level manapun. Perekonomian yang telah menunjukkan denyut nadi yang menghidupi banyak orang dan mengembalikan spirit manusia sebagai “manusia yang bekerja” atau homo faber. Apa yang telah terjadi selama hampir dua tahun terakhir telah menyeret perekonomian semua bangsa di kolong langit ini ke dalam jurang yang paling dalam. Maka, ketika tanda-tanda kehidupan ekonomi sudah menunjukkan geliat kolektif dan masif, aktivitas ekonomi haruslah tetap memitigasi risiko paling kecil sekalipun.

Baca Juga: 3 Desa Wisata Indonesia Tampil di Ajang UNWTO Best Tourism Villages 2021

Demikian pula kehidupan sosial seperti penyelenggaraan kegiatan pendidikan, silaturahmi dan anjangsana, pertemuan-pertemuan di ruang publik, sampai dengan kegiatan-kegiatan pengumpulan orang banyak, yang semuanya berlangsung dalam tatap muka fisik.

Bagaimanapun, menjaga kewaspadaan dan kewarasan menuju kehidupan yang telah “dianggap” normal, adalah kunci terpenting untuk memasuki kehidupan yang benar-benar normal.

Pemerhati Human Capital Management

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan