Kisah Dhab, Kadal Gurun yang Beriman kepada Rasulullah
Muhajirin
Jum'at, 24 Desember 2021 - 15:30 WIB
Dhab sejenis biawak atau kadal yang hidup di gurun (foto: Wikipedia)
Penghuni langit dan bumi selalu bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Semasa beliau masih hidup, banyak keajaiban terjadi yang tak mampu dicerna oleh akal manusia.
Hal itu merupakan salah satu mukjizat Muhammad SAW sebagai seorang rasul. Seperti sebuah kisah yang menceritakan seekor dhab yakni sejenis biawak atau kadal besar yang hidup di gurun, memberikan kesaksian terhadap kebenaran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.
Kisah tersebut bisa ditemui dalam kitab asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa karya al-Imam Al-Allamah al-Qhadi ‘Iyadh. Selain itu, Imam Baihaqi juga menyebutnya dalam kitab Dalailun Nubuwwah, begitu pula Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab.
Suatu ketika seorang Arab Badui dari Bani Sulaim bertemu dengan rombongan Rasulullah SAW usai berburu hewan Dhab. Si badui itu mendekati rombongan tersebut dan bertanya identitas mereka.
Saat mengetahui mereka adalah rombongan Rasulullah, kebencian badui itu pun memuncak. Dia mengikuti dan mencoba mendekat. Setelah berada tepat di hadapan Rasulullah SAW, ia lalu berkata;
“Demi tuhan Latta dan Uzza, tiadalah sesuatu yang terdapat di alam ini yang lebih kubenci daripada kamu wahai Muhammad, kalaulah tidak karena aku khawatir kaumku memanggilku dengan panggilan yang tergesa-gesa, tentulah aku sudah memenggal kepalamu, lalu aku dapat menggembirakan hatiku dan hati semua manusia yang berkulit hitam, putih, merah, dan kaum-kaum selainnya.”
Umar bin Khattab seketika naik pitam. Ia bahkan mencabut pedang dan ingin membunuh badui tersebut. “Wahai Nabi! Biarlah saya mengakhiri hidupnya?”
Hal itu merupakan salah satu mukjizat Muhammad SAW sebagai seorang rasul. Seperti sebuah kisah yang menceritakan seekor dhab yakni sejenis biawak atau kadal besar yang hidup di gurun, memberikan kesaksian terhadap kebenaran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.
Kisah tersebut bisa ditemui dalam kitab asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa karya al-Imam Al-Allamah al-Qhadi ‘Iyadh. Selain itu, Imam Baihaqi juga menyebutnya dalam kitab Dalailun Nubuwwah, begitu pula Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab.
Suatu ketika seorang Arab Badui dari Bani Sulaim bertemu dengan rombongan Rasulullah SAW usai berburu hewan Dhab. Si badui itu mendekati rombongan tersebut dan bertanya identitas mereka.
Saat mengetahui mereka adalah rombongan Rasulullah, kebencian badui itu pun memuncak. Dia mengikuti dan mencoba mendekat. Setelah berada tepat di hadapan Rasulullah SAW, ia lalu berkata;
“Demi tuhan Latta dan Uzza, tiadalah sesuatu yang terdapat di alam ini yang lebih kubenci daripada kamu wahai Muhammad, kalaulah tidak karena aku khawatir kaumku memanggilku dengan panggilan yang tergesa-gesa, tentulah aku sudah memenggal kepalamu, lalu aku dapat menggembirakan hatiku dan hati semua manusia yang berkulit hitam, putih, merah, dan kaum-kaum selainnya.”
Umar bin Khattab seketika naik pitam. Ia bahkan mencabut pedang dan ingin membunuh badui tersebut. “Wahai Nabi! Biarlah saya mengakhiri hidupnya?”