LANGIT7.ID - Penghuni langit dan bumi selalu bershalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Semasa beliau masih hidup, banyak keajaiban terjadi yang tak mampu dicerna oleh akal manusia.
Hal itu merupakan salah satu mukjizat Muhammad SAW sebagai seorang rasul. Seperti sebuah kisah yang menceritakan seekor dhab yakni sejenis biawak atau kadal besar yang hidup di gurun, memberikan kesaksian terhadap kebenaran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah.
Kisah tersebut bisa ditemui dalam kitab
asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa karya al-Imam Al-Allamah al-Qhadi ‘Iyadh. Selain itu, Imam Baihaqi juga menyebutnya dalam kitab
Dalailun Nubuwwah, begitu pula Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah yang diriwayatkan dari Umar bin Khattab.
Suatu ketika seorang Arab Badui dari Bani Sulaim bertemu dengan rombongan Rasulullah SAW usai berburu hewan Dhab. Si badui itu mendekati rombongan tersebut dan bertanya identitas mereka.
Saat mengetahui mereka adalah rombongan Rasulullah, kebencian badui itu pun memuncak. Dia mengikuti dan mencoba mendekat. Setelah berada tepat di hadapan Rasulullah SAW, ia lalu berkata;
“Demi tuhan Latta dan Uzza, tiadalah sesuatu yang terdapat di alam ini yang lebih kubenci daripada kamu wahai Muhammad, kalaulah tidak karena aku khawatir kaumku memanggilku dengan panggilan yang tergesa-gesa, tentulah aku sudah memenggal kepalamu, lalu aku dapat menggembirakan hatiku dan hati semua manusia yang berkulit hitam, putih, merah, dan kaum-kaum selainnya.”
Umar bin Khattab seketika naik pitam. Ia bahkan mencabut pedang dan ingin membunuh badui tersebut. “Wahai Nabi! Biarlah saya mengakhiri hidupnya?”
Namun, Nabi Muhammad SAW tak marah. Ia meredakan amarah Umar. “Wahai Umar! Tidakkah engkau tahu bahwa orang yang lemah-lembut itu hampir diangkat menjadi Nabi?”
Nabi lalu bertanya kepada badui itu dengan bijaksana. “Apa yang menyebabkan engkau berkata demikian? Sepatutnya engkau menghormatiku dalam perhimpunan bersama sahabatku!”
Tetapi, badui itu justru kian tak mau mengalah. Ia malah menegaskan tak ingin beriman kepada Nabi Muhammad.
Seketika itu ia melemparkan binatang Dhab ke hadapan Nabi. Namun Rasulullah tetap tenang dan menanggapinya dengan lemah-lembut. Ia lalu memanggil Dhab itu. Ajaibnya, Dhab itu menjawab panggilan Nabi Muhammad seperti manusia yang berbicara.
“Iya, wahai sang utusan Allah.”
“Kepada siapakah engkau beriman?” tanya nabi.
“Aku beriman kepada Tuhan yang a’rasy-Nya berada di langit, kekuasaannya yang ada di bumi itu atas kekuasaan-Nya, di lautan itu anugrah jalan-Nya, di surge itu rahmat-Nya dan di neraka itu azab-Nya.” Jawa Dhab itu.
Rasulullah lalu bertanya, “Aku ini siapa wahai dhab?”
Dhab itu menjawab, “Tuan adalah utusan Allah, yang memiliki sekalian alam! Amatlah beruntung orang yang menyokong perjuangan tuan, dan binasalah orang yang mendustakan tuan.”
Arab badui yang melihat dan mendengar langsung kejadian itu seketika kaget. Ia lalu menyatakan beriman dan bersyahadat di hadapan Rasulullah.
“Wahai Muhammad! Sebelum ini engkau merupakan orang yang paling aku benci, tetapi hari ini engkaulah orang yang paling aku kasihi, lebih aku kasihi daripada bapak dan diriku sendiri, semoga engkau kasihi dzahir dan batinku.”
(jqf)