LANGIT7.ID-Pada zaman dahulu, di sebuah negeri yang jauh, hiduplah seorang raja yang sangat kejam. Ia bukan hanya menguasai harta dan takhta, tetapi juga menuntut dipatuhi sebagai Tuhan. Siapa pun yang menentangnya akan disiksa atau dibunuh. Namun sebagaimana sunnatullah, kekuasaan yang zalim selalu menyimpan benih kehancurannya sendiri.
Suatu hari, tukang sihir istana datang kepada raja dengan tubuh renta dan suara gemetar. “Tuanku,” katanya, “saya telah tua dan lemah. Kirimkanlah kepadaku seorang pemuda agar aku ajari
ilmu sihir, supaya ia bisa menggantikan aku melayani tuanku.”
Sang raja setuju. Maka diutuslah seorang pemuda dari kalangan rakyat jelata. Setiap hari, ia pergi belajar kepada sang penyihir. Namun dalam perjalanannya, ia selalu melewati sebuah gubuk tua tempat tinggal seorang rahib, ahli ibadah yang hidup sembunyi-sembunyi dari kejaran raja. Dari sana, terdengar nasihat-nasihat
tauhid dan iman yang menenangkan hati.
Suatu hari, rasa penasaran membuat si pemuda duduk dan mendengarkan. Anehnya, hatinya tergetar. Kata-kata sang rahib memecahkan kabut dalam pikirannya. Hari demi hari, ia semakin sering singgah. Tapi karena itu, ia sering terlambat belajar pada tukang sihir, dan kerap dihukum.
Baca juga: Kisah Hikmah: Tiga Suara Bayi dan Seekor Anjing Ia mengadu kepada rahib. Sang rahib berkata: “Jika kau takut kepada penyihir, katakan bahwa keluargamu menahanmu. Dan jika takut pada keluargamu, katakan bahwa penyihir menahanmu.”
Sejak itu, hidupnya terbelah dua: siang belajar sihir, namun hati dan malamnya tumbuh dalam keimanan kepada Allah.
Suatu hari, ia melihat seekor binatang buas menghadang jalan umum. Tak seorang pun bisa lewat.
Ia berkata dalam hati: “Hari ini aku akan tahu siapa yang lebih benar—tukang sihir atau rahib.”
Ia mengambil batu, berdoa: “Ya Allah, jika ajaran sang rahib lebih Engkau cintai, maka bunuhlah binatang ini, agar manusia bisa melanjutkan perjalanan mereka.”
Ia melempar batu itu. Binatang itu mati seketika.
Orang-orang bersorak, tetapi pemuda itu segera berlari kepada rahib, menceritakan apa yang terjadi. Sang rahib memandangnya dengan mata haru, lalu berkata: “Wahai anakku, kini engkau telah melebihi aku. Engkau akan diuji kelak. Dan jika itu terjadi… jangan pernah sebut namaku.”
Maka terjadilah.
Baca juga: Kisah Hikmah Mullah Nasrudin dan Kengerian Timur Lenk: Pedang Keadilan dari Langit Allah memberinya karamah: ia mampu menyembuhkan orang buta, tuli, dan sakit parah dengan doa dan tawakal.
Suatu hari, seorang menteri raja yang buta datang padanya dan berkata, “Jika engkau bisa menyembuhkan mataku, semua hadiah ini untukmu.”
Namun pemuda itu menjawab: “Aku tak bisa menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau beriman kepada-Nya, aku akan berdoa agar Allah menyembuhkanmu.”
Menteri itu pun beriman. Dan Allah menyembuhkannya.
Tapi berita itu sampai ke telinga raja. Ia murka. “Siapa yang menyembuhkan matamu?”
“Tuhanku.”
“Apa?! Kau punya Tuhan selain aku?!”
Menteri itu disiksa sampai ia menyebut nama pemuda itu. Maka pemuda pun ditangkap. “Aku tidak menyembuhkan siapa pun,” katanya, “Allah-lah yang menyembuhkan.”
Raja pun menangkap rahib. Diperintahkannya untuk murtad, tapi rahib menolak. Maka ia digergaji dari kepala hingga tubuhnya terbelah. Menteri pun mengalami nasib serupa.
Kini tinggal pemuda itu.
Baca juga: Kisah Hikmah dari Hadis: Saat Ujian Berbalik Menjadi Azab Raja mencoba membunuhnya. Pertama, ia disuruh dibawa ke puncak gunung dan dilempar. Di sana, ia berdoa: “Ya Allah, cukupkan aku dari mereka sesuai kehendak-Mu.”
Gunung pun bergetar, dan para algojo jatuh berguguran. Ia kembali ke istana.
Raja terkejut. Ia mencoba lagi: kali ini dibawa ke tengah laut. Tapi doa yang sama ia panjatkan, dan perahu pun terbalik. Ia kembali lagi, sendirian. “Apa yang terjadi pada pengawalku?” tanya raja.
“Allah yang menyelamatkanku,” jawabnya.
Lalu ia berkata: “Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali jika engkau mengikuti perintahku: kumpulkan rakyat di tanah lapang, salib aku di kayu, lalu ambillah anak panahku dan ucapkan: ‘Dengan nama Allah, Tuhan-nya pemuda ini’, lalu panahlah aku.”
Raja menurut. Rakyat dikumpulkan. Pemuda disalib.
Raja mengambil panah, lalu berseru: “Dengan nama Allah, Tuhan-nya pemuda ini!”
Anak panah melesat. Tepat di pelipisnya. Pemuda itu wafat.
Rakyat terdiam. Lalu serentak berkata: “Kami beriman kepada Allah, Tuhan-nya pemuda itu!”
Raja gemetar. Ia murka. Ia perintahkan dibuat tungku api besar. “Siapa pun yang masih beriman kepada Tuhan pemuda itu, lemparkan ke dalam api!”
Baca juga: Kisah Hikmah yang Mengharukan Jelang Wafatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz Ratusan orang dilemparkan hidup-hidup, satu demi satu. Hingga tibalah giliran seorang ibu yang menggendong bayinya. Ia ragu. Ia hampir mundur.
Namun bayi di pelukannya berkata: “Wahai ibuku, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.”
Sang ibu tersenyum. Lalu melangkah ke dalam kobaran api. Demi Allah. Demi iman. Demi surga.
---
Kisah ini adalah hadis shahih riwayat Imam Muslim, menjadi bukti bahwa: Syahid bukan hanya di medan perang, tetapi juga dalam mempertahankan akidah.
Allah mampu menolong dengan cara yang luar biasa. Iman bisa lahir di hati siapa saja—bahkan dari seorang pemuda biasa.
Ini bukan dongeng. Ini adalah cahaya yang menyala dari zaman Rasulullah ﷺ sampai hari ini. Dengan nama Tuhan pemuda itu, dunia berubah.
(mif)