LANGIT7.ID, Semarang - Pembangunan tol laut di ruas Kota Semarang akan muli dikerjakan tahun ini. Proses pembebasan lahan di areal tol laut di Kota Semarang saat ini sudah rampung. Proses lelang sudah dilaksanakan akhir tahun lalu.
Hal itu disampaikan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, saat menjadi narasumber di Suara Kota Wali Channel, Kabupaten Demak, pada Senin (24/1).
Menurut Hendrar, proses pembangunan tol laut memang mengalami keterlambatan, dibandingkan Kabupaten Demak yang sudah berjalan, ini akibat persoalan pembebasan lahan.
Baca juga:
Tol Seksi II Semarang – Demak Ditargetkan Rampung Lebih Cepat 2 Bulan“Kenapa Semarang bisa terlambat, karena dalam UU agraria ada istrilah tanah musnah. Ini menjadi perdebatan yang rumit karena di dalam UU dijelaskan kalau tanah kemudian kena air laut, maka dianggap sudah tidak ada kepemilikannya,” kata Hendrar Prihadi.
“Padahal itu bekas daratan. Pemilik sertifikat banyak. Tapi Alhamdulillah, lewat petunjuk presiden akan muncul Keppres, muncul penggantian tanah tersebut. Lelang sudah selesai di akhir tahun. Tahun ini, pasti sudah masuk wilayah Semarang,” imbuh politisi PDIP tersebut.
Hendi mengatakan, banjir masih menjadi persoalan terbesar di Semarang, dan mengakibatkan 56 % jalan mengalami kerusakan. Sejak 2010, pihaknya sudah berupaya untuk mengurangi banjir dan rob di Kota Semarang, di wilayah tengah, barat, timur dan Mangkang.
“Maka yang yang kami lakukan selain membuat program di tingkat APBD Kota, kita komunikasi dengan gubernur dan presiden lewat kemeterian PUPR,” ujarnya.
Di wilayah tengah, upaya yang yang dilakukan yakni pengelolaan drainase, normalisasi Kali Semarang, dan juga kali banger, yang bermuara di kawasan Citarum. Sebelum dibendung, setiap hujan sekeliling banjir. Sekarang setidaknya 90 % persoalan terselesaikan.
Baca juga:
Pemerintah Rencanakan Bangun Pelabuhan Baru di BatamTinggal drainase yang yang harus diganti dengan ukuran yang lebih besar, karena jika intensitas hujan tinggi akan terjadi banjir.
Hendi menambakan, di wilayah barat sudah merencanakan normalisasi banjir kanal barat (BKT). Mestinya di atas di bak penampang. Sebenarnya dibangun oleh pemkot bisa, tapi bentuknya sederhana.
“PUPR membantu waduk Jatibarang, polder di ujung utara di bangunkan. Itu yang terjadi, di sisi itu tidak ada istilah banjir, apalagi rob,” ucapnya.
Sementara itu, di sisi timur pada tahun 2018/2019, ada Sungai Tenggang, Sringin, Babon dan Banjir Kanal Timur.Pemerintah pusat membantu di BKT dan ditambah membuat pompa Sringin dan Tenggang.
“Kok masih rob. Ternyata kemampuan pompa belum maksimal. Dari keterangan BBWS dan SDA, memangbelum bisa mengatasi rob. Finalnya tanggul laut,” ujarnya.
“Demak sudah ada pilar-pilar. Tahun ini sudah masuk Semarang, pengerjaan dua tahun, mudah-mudahan 2023 atau 2024 selesai. Kalau ini selesai, bisa menahan laut pasang. Jalur pantura,.Batang- masuk Kendal-Semarang, Demak, tersambung jalan tol, luar biasa,” imbuh dia.
Turut hadir di Suara Kota Wali Channel, Bupati Demak Eisti’anah mengatakan, tol laut setidaknya bisa sedikit mengatasi persoalan banjir dan rob. Karena di sisi timur air pasti akan meningkat, ketika tol jadi, ada pembangunan berkelanjutan.
“Ada bendungan pembatas, agar air laut tidak ke daratan.Ini program pemerintah pusat, kita sangat mendukung. Terima kasih Presiden Jokowi, upayanya mengurangi kemacetan, mengurai lalu lintas,” ujarnya.
(sof)