LANGIT7.ID, Jakarta - Ulama atau keulamaan dalam Islam memiliki derajat yang agung. Mereka tak hanya berbuat untuk diri sendiri, tapi menjadi pencerah di tengah-tengah umat.
Dalam Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membagi ulama menjadi dua tipe (tipologi) yakni ulama akhirat dan ulama dunia atau ulama yang buruk (
al-'ulama al-suu'). Kedua tipe itu memiliki ciri-ciri yang bertolak belakang.
Al-Ghazali menyebut ada dua belas tanda-tanda ulama akhirat. Di antaranya ialah wara' dan zuhud, bersikap sederhana, serta melihat kehidupan Rasulullah SAW sebagai prototipe untuk diteladani.
Kedua, ulama akhirat menjauhkan diri dari para sultan (penguasa). Pada poin ini, Al-Ghazali menjelaskan bahaya yang terkandung jika dekat dengan penguasa adalah risiko bersikap munafik, menjadi segan dari menentang penguasa, bersusah kata (untuk menyenangkan sultan itu). Bahkan, ia menyebut dekat kepada penguasa merupakan kunci dari segala keburukan.
Ulama akhirat juga tidak tergesa-gesa memberi fatwa sebagai wujud kehati-hatian (
al-hazm). Ini penyakit bagi orang pandai, kerap merak tak sabar mengeluarkan sebuah fatwa hanya karena ingin menunjukkan kepandaiannya.
Selanjutnya, ulama akhirat juga menunjukkan keselarasan lisan dan perilaku. Al-Ghazali menyandarkan poin ini pada Surah Shaff ayat 3. Allah Ta'ala berfirman, "(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."
Memiliki perhatian ke ilmu batin dan muraqabah juga menjadi ciri ulama akhirat. Meski demikian, mereka tidak malas bermujahadah dan mengharap kepada Allah yang kemudian akan berkemungkinan untuk memperoleh mukasyafah.
Ulama akhirat juga bersungguh-sungguh dalam menguatkan keyakinan dan menguasai '
ilm al-yaqin. Namun, ada pula ciri ulama akhirat yang unik seperti merasa sedih (
hazinan), hancur hati, menundukkan kepala, dan berdiam diri (
samitan).
Bagi Al-Ghazali, tampak jelas ulama akhirat dari keadaan, gerak-gerik, dan ketika memandangnya akan seketika mengingatkan pada Allah. Ulama akhirat juga memiliki sifat tawadhu (QS. Al-Hijr: 88) dan khusyuk (QS Ali Imran: 199) serta akhlak terpuji (QS Ali Imran: 159).
Pegangan ulama akhirat berasal dari pandangan yang jernih, bukan cuma pada lembaran kitab-kitab serta tak sekadar taklid dari pendengaran liyan.
Sementara itu, tipe ulama dunia memiliki ciri yang sebaliknya. Ulama dunia sering kali menggunakan ilmu agama untuk mencari perolehan duniawi. Baik itu kekayaan, popularitas, pujian, kemuliaan, kepuasan memenangkan debat, dan sejenis.
Mereka juga tidak segan-segan memberi fatwa halal-haram terhadap satu perkara yang ditanyakan kepada mereka, yang mana ulama akhirat menghindari kecerobohan ini. Ulama dunia merasa perlu mendekat ke penguasa. Tidak jarang dari mereka bahkan bersekutu sehingga dimasukkan ke dalam golongan munafik.
(jqf)