LANGIT7.ID - , Jakarta - Berusia muda dan bergejala ringan tidak menjadi jaminan bagi para penyintas COVID-19 untuk terbebas dari
post-COVID syndrome. Post-COVID syndrome merupakan sejumlah masalah kesehatan atau gejala yang baru, kembali muncul, atau terus terjadi selama 4 minggu atau lebih sejak pertama kali Anda terinfeksi virus penyebab COVID-19.
Lalu, siapa saja yang berpotensi mengalami
post-COVID syndrome dan bagaimana mengenali gejalanya?
Baca juga: Hati-hati, Waspadai Kesehatan Mental di Masa Pandemi Khususnya Penyintas COVID-19Dokter spesialis paru dan pernapasan RS Pondok Indah, Puri Indah, dr. Desilia Atikawati, mengatakan usia berapa pun dapat mengalami
post-COVID syndrome. "Meskipun
post-COVID syndrome pada usia dewasa lebih sering terjadi dibandingkan grup usia anak atau remaja, tetapi kelompok anak dan remaja tetap berisiko mengalaminya." kata Desilia dalam keterangannya yang dikutip Rabu (2/2/2022).
Gejala
post-Covid syndrome pada anak, baik ringan atau berat termasuk
multisystem inflammatory syndrome (MIS). Biasanya penderita akan merasa kelelahan, pusing, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, nyeri otot dan sendi, serta batuk.
Walau jarang, beberapa orang, terutama anak-anak, dapat mengalami MIS sesaat atau segera setelah mengalami infeksi COVID-19. MIS merupakan kondisi di mana berbagai organ tubuh mengalami inflamasi, termasuk jantung, paru, ginjal, otak, kulit, mata, atau sistem pencernaan.
Hingga saat ini, belum diketahui apa yang menjadi penyebabnya. MIS merupakan kondisi serius dan dapat menyebabkan kematian. Gejala yang perlu diwaspadai sebagai MIS adalah adanya demam disertai minimal satu dari gejala seperti nyeri perut, kemerahan pada mata, diare, pusing, ruam kulit, dan muntah.
"
Post-COVID syndrome tidak hanya terjadi pada penyintas COVID-19 yang bergejala berat saja. Penyintas COVID-19 dengan gejala ringan, bahkan tidak bergejala, juga dapat mengalaminya." tambah Desilia.
Umumnya gejala dilaporkan seperti sesak napas, rasa lelah, sulit berkonsentrasi, batuk, nyeri dada atau perut, pusing, rasa berdebar, nyeri otot atau sendi, rasa kesemutan, diare, gangguan tidur, demam, pusing ketika berdiri, ruam kulit, perubahan suasana hati, perubahan kemampuan indra penciuman/perasa, perubahan siklus menstruasi, dan rambut rontok.
Baca juga: Butuh Waktu Bagi Penyintas Covid-19 Pulihkan Paru-ParuHasil penelitian Lancet yang dilakukan ilmuwan dari University College London (UCL), menunjukkan bahwa lebih dari 91 persen partisipan membutuhkan waktu lebih dari 35 minggu untuk pulih sepenuhnya. Selama sakit, partisipan mengalami rata-rata 55,9 gejala yang melibatkan 9,1 sistem organ.
"Gejala yang paling sering ditemukan setelah bulan keenam adalah kelelahan,
post-exertion malaise, dan gangguan kognitif." terang Desilia.
Sebanyak 85,9 partisipan mengalami kekambuhan gejala yang terutama dicetuskan oleh olahraga, aktivitas fisik atau mental, serta stres. Sedangkan sebanyak 1.700 partisipan membutuhkan pengurangan waktu kerja. Gangguan kognitif atau ingatan ditemukan di seluruh grup usia.
Baca juga: Waspada, Penyintas Covid-19 Berpotensi jadi Pelupa dan Lemot"Sebagian penderita COVID-19 yang bergejala berat mengalami dampak multiorgan atau kondisi autoimun dalam waktu yang lebih panjang dengan gejala yang menetap hingga beberapa bulan setelahnya." kata Desilia.
Dampak multiorgan dapat melibatkan banyak sistem tubuh, seperti jantung, paru, ginjal, kulit, dan fungsi otak. Sedangkan kondisi autoimun terjadi ketika sistem imun mengalami kesalahan dan menyerang sel-sel sehat dalam tubuh, yang menyebabkan inflamasi (peradangan) atau kerusakan jaringan di berbagai bagian tubuh.
Desilia mengatakan cara paling baik untuk mencegah
post-COVID syndrome tentu adalah dengan mencegah terjadinya infeksi COVID-19. Bagi Anda yang sudah mendapatkan vaksinasi 1 dan 2, segera lakukan
booster vaksinasi COVID-19 sehingga dapat mengurangi risiko terkena COVID-19 serta melindungi orang sekitar Anda.
(est)