LANGIT7.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap adanya potensi gempa besar disertai tsunami dengan gelombang setinggi 8,28 meter dari Selat Sunda. Bencana tersebut berpotensi menghantam wilayah Kota Cilegon, Banten yang dekat dengan pesisir.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyebut, ada 4 sumber potensi gempa dan tsunami di area tersebut.
"
Pertama, ada Zona Sumber Gempa Megathrust berstatus rawan gempa dan tsunami," ujar Dwikorita dalam keterangan pers yang diterima Langit7, Jumat (18/2/2022)
Baca juga: Pacitan Rawan Gempa dan Tsunami, Kemensos Diminta Antisipasi Skenario TerburukSumber potensi
kedua yakni Zona Sesar Mentawai, Sesar Semangko, dan Sesar Ujung Kulon berstatus rawan gempa dan tsunami.
Ketiga, Zona Graben Selat Sunda berstatus rawan longsor dasar laut yang dapat membangkitkan tsunami.
Keempat, Gunung Anak Krakatau. Jika gunung tersebut terjadi erupsi, maka juga dapat memicu tsunami.
"Letak Cilegon berada di ujing barat Pulau Jawa, tepi Selat Sunda selain strategis juga memiliki risiko bencana besar jika sewaktu-waktu terjadi gempa dan tsunami," tegas Dwikorita.
Menurut pemodelan BMKG, jika terjadi gempa yang bersumber di Zona Meganthrust Selat Sunda, terdapat potensi gempa dengan kekuatan mencapai magnitudo 8,7.
Baca juga: Kepala BMKG Dwikorita Paparkan Fakta Kenapa Kita Harus WaspadaDampak Gempa di CilegonPerkiraan BMKG, kawasan Cilegon akan terdampak guncangan mencapai skala intensitas VI-VII MMI, yang dapat menimbulkan kerusakan ringan, sedang, hingga berat.
Dengan kekuatan mencapai magnitudo maksimum 8,7 maka potensi tsunami tertinggi diperkirakan 8,28 m di sekitar kawasan Pelabuhan Merak, Cilegon.
Sebab, posisi pelabuhan berada pada teluk yang menghadap selat, bersebrangan dengan Pulai Merak Besar. Ini memungkinkan terjadinya amplifikasi atau penguatan gelombang tsunami di lokasi tersebut.
Adapun genangan tsunami diperkirakan mencapai jarak terjauh sekitar 1,5 km, dari tepi pantai, di Kelurahan Tegalratu, Kecamatan Ciwandan, dan Kelurahan Warnasari, Kecamatan Citangkil di Kota Cilegon, yang merupakan kawasan topografi landai.
Risiko dampak bencana gempa dan tsunami di wilayah Banten ini dianggap mengkhawatirkan. Terlebih selama ini, Cilegon dikenal sebagai kota industri penting di kota tersebut.
Baca juga: BMKG Peringatkan La Nina Picu Hujan Deras sekitar November-Februari“Bencana akibat gempa dan tsunami berpotensi terjadi di kawasan industri Cilegon, berupa kebakaran, sebaran zat kimia berbahaya, ledakan bahan kimia, ataupun tumpahan minyak,” imbuh Dwikorta.
Tak hanya itu, Cilegon juga terdapat berbagai objek vital negara, termasuk Pelabuhan Merak, Pelabuhan Cigading Habeam Centre, Kawasan Industri Krakatau Steel, PLTU Suralaya, PLTU Krakatau Daya Listrik, Krakatau Tirta Industri Water Treatment Plant, (Rencana) Pembangunan Jembatan Selat Sunda, dan (Rencana) Kawasan Industri Berikat Selat Sunda.
Jadi, jika terjadi gempa kuat diikuti tsunami, kawasan industri Cilegon menyimpan potensi bahaya berupa bencana kegagalan teknologi yang menimbulkan kerugian, berupa kerusakan lingkungan, insfrastruktur, lingkungan, penyakit, cedera, hingga kematian pada manusia.
(sof)