LANGIT7.ID, Jakarta - Keberadaan mangrove sebagai ekosistem hutan esensial di wilayah pesisir Indonesia dinilai memiliki peran ekologis, ekonomis, dan sosial yang begitu penting bagi masyarakat pesisir.
Petronela Meraje (41) salah satu aktivis perempuan bidang lingkungan hidup, dan UMKM di Jayapura mengungkapkan, diantara negara-negara di dunia, Indonesia memiliki lautan hutan mangrove terbesar mencapai 2,8 juta hektar, atau seluas 27 persen dari luasan mangrove di dunia.
“Hutan mangrove memiliki manfaat besar terutama sebagai penangkal abrasi juga bagi ekosistem laut lainnya, di dalamnya terdapat banyak biota laut sehingga menjadi salah satu penghasil utama dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat adat,” ujarnya dalam diskusi daring dengan tema “Mangrove di Tanah Papua, Siapa yang Jaga?”. Sabtu, (19/02/2022).
Baca juga: KKP Kubur Lumba-Lumba Terdampar di KendariKawasan mangrove terbesar terdapat di daerah Papua Barat, sekitar 0,3 juta hektar luasan mangrove yang memberikan sumber kehidupan bagi masyarakat, juga sebagai cadangan karbon yang menjaga kestabilan iklim global.
Menurut Petronela, masyarakat Papua sangat erat dengan alam, tradisi, budaya, dan penghidupan masyarakat sehingga masyarakat setempat sangat tergantung dari alam, salah satunya keberadaan hutan mangrove.
“Pohon bakau (mangrove) berguna dan biasanya dipakai untuk membuat tiang rumah, dan juga kayu bakar,” katanya.
Dia mengatakan, hutan mangrove merupakan warisan yang diberikan oleh leluhur kepada masyarakat adat atau anak cucu di pesisir Teluk Youtefa, yang sering digunakan sebagai lahan untuk mencari nafkah.
“40 tahun yang lalu, di pesisir Teluk Youtefa ditumbuhi banyak sekali mangrove bagi para perempuan di sana, hutan mangrove disebut sebagai hutan perempuan, dan menjadi tempat yang sakral bagi kami,” ujarnya.
Baca juga: 5 Manfaat Treking ke Hutan, Bisa Jadi Resolusi Anti Mainstream di 2022Menurutnya, selain digunakan sebagai tempat untuk mencari nafkah, hutan mangrove juga digunakan sebagai tempat bercerita, dan berkeluh kesah mengenai kehidupan bagi para kaum perempuan di Jayapura.
“Dengan adanya pembangunan di Teluk Youtefa kini keberadaan hutan mengrove semakin terkikis, pohon-pohon besar yang ada sudah menghilang diakibatkan pembangunan dari jembatan merah,” terangnya.
Dengan kondisi demikian, membuat Petronela dan kelompok masyarakat adatnya tergerak dalam melakukan pembibitan di sekitar Teluk Youtefa di dekat Jembatan Merah, baginya sudah tidak ada waktu untuk saling meyalahkan. Dia tidak menginginkan di 20 tahun mendatang hutan perempuan hanyalah sebuah cerita.
“Dengan dilakukannya pembibitan ini diharapkan cerita hutan perempuan akan tetap menjadi identitas bagi masyarakat adat, dan akan terus menjadi bagian dari cerita adat istiadat bagi para perempuan hebat di Teluk Youtefa,” tutupnya.
(sof)