LANGIT7.ID, Jakarta - Ustadz Adi Hidayat (UAH) telah resmi meluncurkan produk herbalnya, PH7 Rempah untuk diproduksi massal dan bisa dikonsumsi publik. Peluncuran herbal yang diklaim bisa menyembuhkan Covid-19 ini disiarkan lewat Youtube Adi Hidayat Official pada 10 Maret 2021.
"Alhamdulillah riset PH7 telah selesai kami tuntaskan dan telah berwujud dalam materi rempah PH7 yang siap diproduksi massal," katanya dikutip Selasa minggu ke empat Juni 2021.
UAH menyatakan, herbal PH7 Rempah ini telah mendapatkan izin edar pemerintah. Kemasan produk ini pun telah mencantumkan informasi PIRT bernomor registrasi P-IRT 2133275021203-25, kode produksi, dan informasi kandungan.
"Manfaat meningkatkan imunitas, memperlancar pernapasan dan mempercepat penyembuhan luka. Alhamdulillah dari yang telah menggunakan responsnya positif," kata UAH.
UAH bilang, riset atas produk herbal ini didasarkan pada hadis-hadis Nabi Muhammad. Karena itulah ia menamai produk herbal anticovid-19-nya dengan nama PH7, singkatan dari Propetic Healing Abad ke-7.
Menurut dia, produk ini dapat menjadi pendamping obat utama atau suplemen bagi pencegahan dan pengobatan Covid-19.
"Qadarullah, saya dapat itu 18 Maret 2020. Herbal ini saya coba ke teman-teman yang terkena Covid-19 . Kalau gejalanya hanya flu, bisa diteteskan ke hidung. Kalau sudah ke imun, gangguan pernafasan itu diminum dengan kadar tertentu," jelasnya.
UAH mengatakan, bahan dasar PH7 Rempah berasal dari Himalaya, India. Saat ini, produk PH7 Rempah masih dipasarkan secara terbatas atau Untuk Kalangan Sendiri. Publik bisa mendapatkannya dengan melakukan pemesanan di website Quantum Akhyar.
"Kami berikan keterangan bahwa ini tidak untuk diperjualbelikan karena niatnya untuk diproduksi masal untuk didedikasikan bagi kepentingan yang membutuhkan," kata UAH. Ia melarang siapapun mengomersilkannya.
Andaikata UAH mengizinkan produknya dijual, di tengah permintaan atas produk herbal yang tinggi, PH7 Rempah bisa mewarnai pasar farmasi atau jamu dan menjadi pelopor produk-produk herbal sesuai sunnah Nabi.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh sebuah perusahaan konsultan pemasaran pada 112 responden di seluruh Indonesia, selama pandemi terdapat perubahan perilaku pembelian produk farmasi di mana tiga produk paling sering dibeli adalah vitamin (68,8%), multi-vitamin (57,1%) dan madu (56,3%).
Survei juga menunjukkan 92% responden memiliki ketertarikan yang tinggi dalam membeli produk herbal. Alasan responden adalah karena terbuat dari bahan-bahan alami (84,1%) dan tidak memiliki efek samping (69,6%).
"Frekuensi penggunaannya pun cukup sering dimana 39,3% responden mengkonsumsi produk kesehatan dua sampai tiga hari sekali dan 27,7% mengonsumsinya setiap hari," kata Direktur Utama PT Sidomuncul, David Hidayat dalam laporan direksinya.
Gabungan Pegusaha Jamu (GP Jamu) memproyeksikan pertumbuhan penjualan jamu dan produk herbal pada tahun ini naik 5%. Minat masyarakat terhadap jamu dan obat herbal dinilai semakin bagus seiring belum meredanya pandemic Covid-19.
Ketua Umum GP Jamu, Dwi Ranny Pertiwi bilang,produk yang paling banyak dicari konsumen adalah produk yang bisa menjaga imunitas, ia mencontohkan jahe merah. "Makanya, seperti Bintang Toedjoe itu bikin perkebunan besar-besar untuk jahe merah bersama para petani," katanya dikutip Kontan.
Pada tahun 2019, merujuk data BPS, GP Jamu telah melaporkan realisasi penjualan jamu dan produk herbal mencapai Rp16 triliun. Dia meyakini tahun ini akan menjadi momen tepat untuk menandai kebangkitan industri jamu dan produk herbal.
“Tahun lalu (2020) industri jamu turun 30%, bahkan beberapa sampai gulung tikar. Tahun ini kita optimis, karena masyarakat sudah banyak yang paham, jamu terbukti baik untuk kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh,” ungkapnya.
(zul)