LANGIT7.ID, Jakarta - Hasil survei perusahaan penyedia teknologi Entrust menyebut masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan dompet digital untuk pembayaran dibanding kartu.
Laporan ini disampaikan dalam kegiatan media briefing virtual bertajuk The Great Payments Disruption. Ada delapan negara lainnya yang disurvei perusahaan tersebut selain Indonesia.
"Tidak ada negara lain di dunia yang memiliki angka setinggi yang kami lihat di Indonesia sebesar 65 persen," kata Regional Vice President, Asia Pacific & Japan Entrust, Angus McDougall, Selasa (15/3/2022).
Laporan tersebut menyurvei 1.350 nasabah dari sembilan negara yang melakukan atau menerima pembayaran digital dalam 12 bulan terakhir.
Selain Indonesia, negara-negara yang disurvei antara lain Amerika Serikat, Kanada, Inggris Raya, Jerman, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Singapura, dan Australia.
Dia berpendapat setidaknya terdapat dua alasan mengapa pengguna dompet digital tinggi di Indonesia. Pertama, menurutnya, orang Indonesia memiliki kecenderungan yang kuat untuk dapat menerima penggunaan platform digital.
Kedua, pemerintah telah mendorong masyarakat untuk mengadaptasi penggunaan dompet digital. "Terakhir kami menghitung ada sekitar 48 platform e-wallet yang berbeda di Indonesia. Dan ini menarik untuk didiskusikan, terutama mengenai kepopulerannya," ujar McDougall.
Jika data survei dilihat secara global, pengguna yang lebih menyukai menggunakan dompet digital untuk metode pembayaran hanya mencapai angka 22 persen atau menempati posisi dua terendah dibandingkan dengan metode lainnya.
Mayoritas responden dari kesembilan negara yang disurvei Entrust lebih memilih transaksi menggunakan kartu kredit/debit ber-chip sebesar 50 persen (Amerika Serikat dan Jerman).
Selain itu, para responden juga menyukai pembayaran dengan metode kredit/debit nirsentuh sebanyak 48 persen (Kanada, Inggris, Jerman, Uni Emirat Arab, Singapura, dan Australia).
Sumber: Antaranews(bal)