LANGIT7.ID - , Jakarta - Meski kasus penularan Covid-19 tampak menurun di Indonesia, namun masyarakat tetap dihimbau tetap patuh pada protokol kesehatan. Terutama bagi mereka yang memiliki komorbid dan imunitas rendah. Sebab bila terinfeksi, golongan ini akan memiliki gejala berat hingga kritis yang mengharuskan mendapat perawatan medis.
Virus covid telah memicu berbagai masalah kesehatan dan dapat memengaruhi kualitas hidup pasien. Dampaknya bisa sampai seumur hidup termasuk memperbesar risiko terjadinya Demensia Alzheimer.
Baca juga: Waspada, Penyintas Covid-19 Masih Bisa Terinfeksi LagiDokter Spesialis Saraf dan Champion ALZI, dr Sheila Agustini mengatakan penyintas Covid-19 rentan terhadap risiko Demensia Alzheimer.
"Virus Covid dapat menyebabkan peradangan pada susunan saraf pusat. Saat virus covid merusak pembuluh darah di bagian otak maka ada sel-sel otak yang mengalami degenerasi bahkan mati. Inilah yang menyebabkan penyintas menjadi rentan terhadap risiko Demensia Alzheimer sehingga perlu tetap diwaspadai," kata dr Sheila Agustini dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu (16/3/2022).
Sebagai tindakan preventif, dr Sheila menyarankan para penyintas untuk melakukan berbagai aktivitas untuk menstimulasi fungsi kognitif.
"Seperti rajin membaca, menulis, bermain tebak-tebakan, bermain catur, mengisi TTS, dan lainnya," jelas dr Sheila.
Selain melakukan aktivitas tadi, dr Sheila juga mendorong penyintas untuk melakukan pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali atau saat timbul keluhan yang mengganggu.
Penerapan prokes serta vaksinasi merupakan cara untuk mencegah penularan virus Covid kepada kelompok berisiko tinggi, seperti Orang Dengan Demensia (ODD).
Menurut dr Sheila, pasien Covid-19 dengan gejala berat yang memiliki faktor risiko Demensia Alzheimer memiliki kemungkinan lebih besar terkena gangguan fungsi kognitif pada saat dan pasca infeksi.
Baca juga: Hati-hati, Waspadai Kesehatan Mental di Masa Pandemi Khususnya Penyintas COVID-19"Gangguan kognitif meliputi kesulitan dalam berpikir, sulit mengingat kembali, dan gangguan penalaran dan perilaku wajar. Penelitian medis lebih lanjut terkait hal ini masih diperlukan studi yang mendalam," sambung dr Sheila.
Namun, dr Sheila melanjutkan, tata laksana penanganan gangguan fungsi kognitif, seperti terapi dan obat-obatan dapat diberikan pada pasien covid-19 berdasarkan kebutuhan sejauh mana mengganggu kehidupan dan aktivitas sehari-hari.
(est)