LANGIT7.ID - , Jakarta - Sebuah studi yang dimuat dalam The Lancet Psychiatry menyebutkan satu dari tiga penyintas COVID-19 mengalami gangguan psikiatri seperti insomnia dan gangguan kecemasan. Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Pondok Indah, dr. Leonardi A. Goenawan, Sp.KJ mengatakan sejak berlangsungnya pandemi, kasus insomnia semakin meningkat hingga mencapai 40 persen.
Istilah “COVID-somnia” atau “Corona-somnia” mulai dikenal sekitar musim panas 2020 untuk menggambarkan dampak pandemi global terhadap pola tidur seseorang.
Baca juga: Hati-hati, Waspadai Kesehatan Mental di Masa Pandemi Khususnya Penyintas COVID-19"Gangguan tidur selama pandemi COVID-19 ini disebut sebagai “tandemic” oleh Dr. Abinav Singh, seorang direktur medis The Indiana Sleep Center," kata dr Leonardi melalui keterangan tertulisnya.
Ia menambahkan, setidaknya ada tiga hal yang dianggap sebagai penyebab gangguan tidur.
"Stres emosional akibat pandemi dapat mengubah arsitektur tidur, memperpendek durasi gelombang lambat yang bersifat restoratif, meningkatkan REM (rapid eye movement), dan cenderung membuat seseorang lebih sering terbangun di malam hari." kata dr Leonardi.
Dalam suatu penelitian dikatakan bahwa kondisi ini dapat tetap terjadi selama dua tahun setelah seseorang mengalami tekanan emosional yang berat seperti pada pandemi ini.
Stres juga akan meningkatkan kadar kortisol, suatu hormon yang bekerja berlawanan dengan melatonin – hormon yang bertanggung jawab untuk kualitas tidur.
"Selama hormon kortisol dalam konsentrasi yang tinggi, maka produksi melatonin akan terganggu, sehingga kualitas tidur juga akan terganggu." jelasnya.
Selain itu, banyak berdiam diri di rumah karena harus menjalankan “lockdown” juga memberikan tekanan tersendiri. Di samping itu, kurangnya paparan sinar matahari, selain menimbulkan stres, juga akan mengganggu irama sirkadian atau proses alami yang mengatur siklus tidur-bangun setiap harinya.
"Hilangnya berbagai aktivitas ini akan menimbulkan perasaan terisolasi dan dapat berdampak negatif pada kesehatan mental," sambung dr Leonardi.
Ketiadaan aktivitas rutin tersebut cenderung membuat tidur lebih larut dan bangun lebih siang. Di samping kualitas tidur menjadi buruk, gangguan pada irama sirkadian tersebut juga akan berdampak pada fungsi biologis lainnya, termasuk pencernaan, respons imunitas, dan lainnya.
Hal ketiga yang menjadi penyebab gangguan tidur adalah terlalu banyak mengonsumsi informasi. Situasi ini akan meningkatkan tekanan mental dalam bentuk kecemasan dan ketakutan. Belum lagi berhadapan dengan disinformasi dan hoaks.
"Durasi kita berada di depan monitor (screen time), dikaitkan dengan menurunnya kualitas tidur, terutama apabila dilakukan pada malam hari. Sinar biru dari monitor akan merangsang tubuh kita untuk mempertahankan kadar kortisol tetap tinggi dan menekan produksi melatonin," jelas dokter yang bertugas di RSPI Puri Indah dan Bintaro Jaya ini.
Baca juga: Ketentuan Baru: Penyintas Covid-19 Bisa Divaksin Setelah Sebulan Sembuhdr Leonardi juga menjelaskan bahwa tidur adalah bagian paling sentral dalam kehidupan.
"Tidur untuk memastikan seluruh fungsi tubuh dapat melakukan tugasnya dengan baik melalui keteraturan irama sirkadian yang akan menjaga tubuh kita tetap sehat, produktif, dan sejahtera," tutupnya.
(est)