LANGIT7.ID, Jakarta - Pemerintah menargetkan 3 tahun mendatang
kendaraan listrik bakal ramai mengaspal di jalan raya. Sebab Indonesia diyakini dapat menjadi produsennya.
Menteri Perindustrian,
Agus Gumiwang Kartasasmita, mengaku optimistis Indonesia dapat menjadi produsen kendaraan dengan emisi rendah karbon dan ramah lingkungan.
"Sehingga diperlukan langkah akselerasi membangun ekosistemnya yang kuat dan terintegrasi,” kata Agus di Jakarta, Kamis (17/3/2022).
Baca Juga: Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik, PLN Operasikan 5 SPKLU di PaluSaat ini, pemerintah tengah berfokus dalam pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik dari hulu hingga hilir. Salah satunya melalui peningkatan investasi untuk memperkuat struktur manufaktur dalam negeri.
Selain itu, beberapa investor juga disebutkan telah mengajukan proposal untuk berkontribusi dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Di antaranya seperti produksi baterai.
"Pemerintah juga fokus menjalankan kebijakan hilirisasi, guna meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat," katanya.
Sebab, hilirisasi sektor industri disebut telah memberikan dampak luas bagi perekonomian nasional, antara lain bertambahnya penerimaan devisa dan penyerapan tenaga kerja.
Untuk itu, kata dia, tahun ini bakal menjadi momen penting untuk pengembangan baterai litium kendaraan listrik. Apalagi, beberapa investor segera memulai konstruksi pembangunan pabrik pengolahan nikel dan kobalt menjadi bahan baku baterai litium.
“Pemerintah menargetkan pada tahun 2024 nanti mobil listrik yang diproduksi di Indonesia sudah menggunakan baterai listrik, dan juga komponen-komponen penting lainnya yang diproduksi di negara kita,” ungkapnya.
Sebagai informasi, peta jalan industri otomotif nasional menargetkan sebanyak 20 persen kendaraan berbasis baterai listrik akan berseliweran pada tahun 2025.
Hal itu seiring dengan upaya industri otomotif yang terus melakukan efisiensi untuk jenis teknologi Internal Combustion Engine (ICE), Hybrid, dan Plug-in Hybrid.
“Teknologi fuel cell berbasis hidrogen juga mendapat perhatian dalam peta jalan industri otomotif nasional. Demi menuju produksi industri kendaraan ramah lingkungan,” katanya.
Selain itu, pengembangan ekosistem industri kendaraan listrik, dan industri otomotif dalam negeri ditargetkan dapat memproduksi mobil listrik dan bus listrik sebanyak 600 ribu unit pada 2030 mendatang.
"Sehingga angka tersebut dapat mengurangi konsumsi BBM sebesar 3 juta barrel dan menurunkan emisi CO2 sebanyak 1,4 juta ton. Upaya ini diharapkan dapat mendukung pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29 persen pada tahun 2030, dan di tahun 2060 masuk ke emisi nol atau net zero carbon,” ungkapnya.
(bal)