LANGIT7.ID, Jakarta - Mahasiswa yang telah menyelesaikan studi S1 bisa langsung mencari pekerjaan atau menempuh pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bagi sebagian orang, memiliki gelar magister merupakan kebanggaan.
Co-Founder Follow Your Flow, Vicario Reinaldo, mengatakan, biasanya ada dua pertanyaan yang kerap dari para pelajar sebelum melanjutkan jenjang studi S2. Dua pertanyaan itu yakni bagaimana cara diterima di kampus tertentu dan bagaimana cara mendapat beasiswa.
Namun, sebelum menjawab dua pertanyaan itu, alangkah baiknya jika menanyakan 3 hal. Pertanyaan pertama, apa prioritas dalam beberapa tahun ke depan?
Baca juga: Kemenkominfo Buka 200 Beasiswa S2 di Dalam dan Luar NegeriMenurut Vicario, S2 adalah jalan untuk mendapatkan sesuatu. Maka itu, setiap pelajar perlu memiliki gambaran mengenai sesuatu yang ingin dicapai itu. Contoh dari sesuatu yang menjadi prioritas itu adalah jenjang karir yang lebih tinggi, transisi ke bidang karir yang baru, membuka wawasan, dan take a break.
“
Kalo gue bener bener ga tau gimana? Ada 2
step. Pertama, bikin hipotesis berdasarkan info yang kita tahu. Karena kita selalu punya informasi cuma mungkin belum lengkap
aja. Kedua, cari informasi dulu,” kata Vicario melalui akun
Twitter-nya, Selasa (22/3/2022).
Itu menyebabkan ada banyak orang memberikan saran kepada mahasiswa lulus S1 agar tidak langsung melanjutkan S2. Itu agar bisa lebih mengenal prioritas dan opsi yang ada di luar lembaga pendidikan.
Pertanyaan kedua, seberapa relevan S2 terhadap tujuan tersebut? Kerap seorang mahasiswa terpaku kalau S2 merupakan jawaban dari situasi yang tengah dihadapi. Dari situ, seorang pelajar diajak
reconsider apakah benar hipotesis tersebut.
Mempertanyakan hal ini tidak gampang karena tiga alasan. Pertama, orang tua merasa S2 penting. Kedua, secara general pemegang gelar S2 masih sangat dipandang. Ketiga, makin banyak beasiswa.
Baca juga: Ingin Kuliah Gratis di Universitas Al-Azhar? Simak KetentuannyaNamun, coba lanjut ke pertanyaan ketiga. Apa alternatif yang dimiliki selain S2? Di sini ada sebuah konsep yang mau bisa dibahas, yaitu
trade off. Singkatnya, kalau mengambil S2, berarti tidak bisa melakukan hal lain.
“
The question is, worth it ga tuh kita
ga melakukan hal itu demi S2. Salah satu
trade off-nya adalah kita mungkin perlu
resign dari kerjaan supaya bisa fokus S2,” kata Vicario.
Bisa jika kerja sambil kuliah S2, tapi itu membutuhkan tenaga ekstra sehingga akan sangat capek. Jika sekadar buka wawasan, bisa lewat
Googling dan
YouTube. Mau belajar yang lebih terstruktur, bisa ikut
online course.
“Mau
network, bisa ikut komunitas atau kenalan sama
stranger. Mau
credibility, bisa bikin portofolio karya. Mau
break dulu, bisa ambil cuti atau sekalian
sabbatical,” katanya.
Vicario menjelaskan tiga pertanyaan itu penting ditanyakan sebelum mencari kampus dan beasiswa S2. Ada dua skenario yang bisa dilakukan. Pertama, jika sejak awal sudah tahu kalau S2 itu tidak relevan lagi, maka tak perlu lagi mencari kampus dan beasiswa. Waktu bisa digunakan untuk aktivitas lain.
Baca juga: Tips Kuliah di Luar Negeri agar Ibadah Tetap TerjagaSkenario kedua, jika semakin yakin untuk melanjutkan S2. Itu bisa menjadi motivasi tambahan ketika harus harus
allocate extra effort buat cari sekolah dan beasiswa.
Jika pertanyaan itu sudah dijawab dan mendapatkan kesimpulan, maka akan lebih mudah menjalani proses ke depan. Kesimpulannya, ada tiga hal yang bisa direnungi sebelum memutuskan S2, yakni prioritas ke depan, relevansi S2 terhadap prioritas itu, dan alternatif yang kita punya.
(jqf)