LANGIT7.ID, Jakarta - Swalayan Tip Top dikenal sebagai pusat belanja yang murah dan ramah. Memuaskan hati orang banyak dengan menjalankan sistem usaha yang islami adalah salah satu misi perusahaan yang nampaknya memang dipegang teguh karyawannya.
Pendiri Swalayan Tip Top, Rusman Maamoer memang merancang bisnis ritelnya untuk istiqomah menerapkan ajaran Islam. Baginya, kalau sudah cukup untung 2 sampai 3% untuk apa berambisi meraup 5 atau 10%.
"Setahu saya prinsip dalam Islam itu, carilah pendapatan secukupnya untuk dirimu. Jadi walaupun barangnya halal, tapi kalau harganya mahal, bagi saya tidak baik, dan tidak islami juga jadinya," ujar Rusman dalam laporan Majalah Tarbawi, Edisi 16, 31 Januari 2001.
Website resmi Swalayan Tip Top dalam bagian “Komitmen” menuliskan bahwa setiap toko mereka hanya menyediakan barang-barang halal tur murah. Ternyata dasar islami ini mendapat respon positif dari masyarakat.
Allah menjanjikan akan melapangkan kesusahan seorang muslim di hari kiamat, apabila melapangkan kesusahan sesama muslim di dunia. Sebagaimana hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, yakni, “Barangsiapa melapangkan seorang mukmin dari salah satu kesusahan dunia, maka Allah akan melapangkannya dari salah satu kesusahan di hari kiamat” (HR Muslim).
Pada 1979, Rusman mendirikan Tip Top pertamanya di lahan seluas 400 meter persegi di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Kelak, Tip Top dikenal sebagai
landmark Rawamangun sebagaimana Gelael Swalayan yang dikenal sebagai
landmark Tebet, Jakarta Selatan dalam obrolan masyarakat urban.
Saat ini Tip Top sudah memiliki delapan gerai yang tersebar di kawasan Jabodetabek. Ritel ini menjual lebih dari 200 produk makanan, minuman dan barang kebutuhan hidup lainnya. Dalam menerapkan prinsip bisnis islami, Swalayan Tip Top bukan hanya tidak menjual daging babi dan minuman keras, tetapi juga selektif sejak pemilihan produk.
"Misalnya daging sapi atau ayam, kalau harganya terlalu murah, atau tidak jelas memotongnya, Islami atau tidak, saya tolak. Bagi saya justru mencurigakan kalau harganya terlalu murah, dari mana dapat daging itu?," kata Rusman.
"Jadi barang-barang yang tidak jelas asal usulnya tak mau saya terima. Saya juga perlu melihat langsung tempat pemotongan hewannya.Saya berusaha memprotek, agar hanya barang yang halal dan thoyyib saja yang dijual," imbuhnya.
Tip Top mendapat sambutan di luar dugaan. Perkembangannya demikian cepat, bagaikan air bah saja. Lahan seluas 400 meter per segi itu tidak mencukupi. Tiap tahun, Rusman harus memperluas lahan dengan membongkar bagian rumahnya di samping mini market.
Tahun 1985, Tip Top sudah berubah jadi pasar swalayan, dengan luas 3000 meter per segi dan kenaikan penjualan 20 hingga 30 kali lipat. Pelanggan yang datang pun tidak hanya yang tinggal di Rawamangun saja, tapi meluas hampir di seluruh Jakarta Timur.
"Saya merasa ini tak lain karena ridho Allah. Dengan kesadaran ini, saya semakin takut untuk keluar dari jalur islami. Tawaran dari supplier barang yang tidak islami, misalnya minuman keras, bukannya tidak ada. Bahkan fasilitasnya mudah dan keuntungannya besar. Saya tetap menolak semuanya," ungkap Rusman.
Penerapan ajaran Islam tidak hanya terpampang dalam pernyataan situs swalayan saja, melainkan juga dijalankan dalam teknik pemasaran, produk yang dijual, komunikasi dengan pelanggan, program-progam sosial, hingga nuansa swalayan.
Sarana ibadah seperti masjid juga dibangun pada cabang-cabang toko ritel. Sehingga, selain membentuk citra islami, Swalayan Tip Top juga turut melakukan dakwah bil hal atau dakwah perbuatan lewat program dan kebijakan perusahaan.
Citra islami yang dibentuk swalayan Tip Top terlihat dari berbagai aspek. Sebelum umat Islam ramai-ramai meneriakkan ritel islami lalu muncul 212 Mart, Tip Top bisa dibilang sudah memulainya sejak lama. Kompetitor ritel islami lainnya yakni Ahad Mart dan Shodaqoh.
"Sebelum kemarin rame-rame gembar-gembor swalayan/mini market islami, kita sudah mengusung konsep nuansa islami. Dari dulu memang seperti itu. Hanya memang kami seolah menjadi pionir. Gitu sih kira-kira," ujar Manajer Operasional Swalayan Tip Top, Abdul Wahid Andriansyah mengutip Rialdi Pratama dalam "Nilai-Nilai Dakwah Dalam Strategi Komunikasi Pemasaran Swalayan Tip Top", (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Komunikasi Dan Penyiaran Islam, 2015).
Selain komitmen menjual produk halal, pelanggan yang hendak masuk ke Tip Top pun akan disambut dengan ucapan selamat datang
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh" pada pintu. Saat masuk ke bagian dalam, lagu-lagu islami menjadi pengisi waktu saat pengunjung memilih barang.
Bahkan, ketika tiba waktu shalat, secara
default audio swalayan akan memutar suara adzan. Pemutaran adzan dimaksudkan sebagai pengingat pengunjung bahwa sudah waktunya untuk beribadah.
"Kemudian untuk lagu-lagu, sebenernya kalo temen-temen belanjar tentang penuansaan retail atau tempat belanja itu, akan berbeda dengan di tempat lain. Lagu-lagu di supermarket itu cenderung lagu yang bitnya selow, rileks sehingga orang nyaman untuk berbelanja," ujar staf pemasaran dan komunikasi Tip Top, Mogi Bian Darmawan.
Swalayan Tip Top juga memiliki program infaq serta kegiatan dakwah lainnya seperti pengajian rutin, bersih-bersih masjid, dan bantuan sosial. Mengutip laporan infaq, swalayan ini menghimpun Rp55 juta sepanjang Januari hingga April 2020 sebelum pembatasan sosial pandemi Covid-19 berlaku.
Kemudian untuk meningkatkan kapasitas ruhiyah karyawan, perusahaan menggelar pengajian rutin sebulan sekali. Setiap bulannya tema yang dibawa selalu berubah-ubah seperti bagaimana mencapai keluarga yang bahagia, cara mendidik anak, pernikahan dan banyak lainnya.
Pengajian rutin ini juga dilakukan diseluruh cabang Tip Top yang berada di Jabodetabek, kolaborasi manajemen dengan IKMT (Ikatan Keluarga Muslim Tip Top). Sebelum dimulai biasanya pengajian dimulai dengan membaca tilawah Alquran.
Tujuan diadakannya pengajian ini agar pegawai tidak sibuk dengan urusan duniawi tapi melupakan yang akhirat. Pengajian ini dihadiri oleh kepala cabang dan karyawan.
"Tapi ada juga untuk cabang tertentu yang memiliki fasilitas memadai kita open juga untuk masyarakat sekitar," tutur Mogi.
Praktik-praktik islami juga terlihat dari interaksi perusahaan dengan konsumen di media sosial. Saat menjawab pertanyaan warganet, admin akun swalayan Tip Top sebisa mungkin mengawalinya dengan Assalamualaikum. Menjawab dengan jujur, valid, dan lugas juga menjadi kewajiban admin media sosial.
Saat kebijakan kantong plastik berbayar, swalayan Tip Top bahkan turut mendukung program tersebut. Admin media sosial kemudian menyampaikan ke pelanggan lewat media sosial dengan mengutip Alquran Surat Ar Rum ayat 41.
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Demi kelestarian lingkungan bersama mari membatasi penggunaan kantong plastik. TIP TOP Supermarket & Dept. Store menerapkan: Pemakaian Kantong Plastik Berbayar."
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa menipu, bukan golongan dari kami”. (HR Muslim).
Hadis tersebut terjadi ketika Rasulullah bertemu dengan seorang pedagang yang curang dalam menjual barang dagangannya, karena dia berusaha untuk mengecoh pembeli dengan menaruh barang dagangan yang bagus di bagian atas untuk menyembunyikan barang yang kondisinya buruk di bagian bawah.
(zul)