LANGIT7.ID - , Jakarta - Putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inaya Wahid, mengatakan nilai paling menarik yang dijunjung tinggi oleh Gus Dur adalah egalitarian dimana ia tidak menganggap semua orang sama.
"Salah satu nilai yang di junjung tinggi oleh Gus Dur itukan egalitarian atau kesetaraan. Menarik dari egalitarian itu bahwa ia tidak menganggap semua orang sama. Malah kita tidak perlu sama," ucap Inaya pada wawancara khusus oleh Langit7, Sabtu (2/3/2022).
"Tidak apa-apa berbeda, itu akan membuat kita memiliki kekuatan. Dan kita juga jadi memiliki sudut pandang yang berbeda-beda" lanjut dia.
Baca juga: Gus Dur Representasi dari Kemanusiaan dan SantriMenurut dia, yang menyenangkan dari nilai atau prinsip adalah ia tidak lekang oleh waktu, selama ada manusia maka nilai-nilai kemanusiaan akan selalu ada dan selalu dibutuhkan.
Tidak sampai disitu, pendiri Positive Movement (PM) ini juga berkata sebenarnya nilai kemanusiaan ini tidak hanya dapat muncul dalam satu bentuk tetapi juga bisa dalam berbagai bentuk.
"Nilai kemanusiaan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, bahkan sebenarnya ia seharusnya muncul dalam berbagai bentuk," ucapnya.
"Kita tidak bisa bilang bahwa kita hanya menerapkan nilai toleran dalam lingkungan kerja saja, tetapi lingkungan pribadi tidak," ungkap wanita kelahiran 1982 ini.
Nilai atau
value harus muncul secara menyeluruh dalam setiap kehidupan. Nilai seperti toleransi dan lainnya bukan sesuatu yang parsial yang bisa digunakan pada saat kesempatan, tetapi tidak bisa digunakan di kesempatan lain. Inaya mengibaratkan nilai sama seperti kacamata, bagaimana melihat segala sesuatu.
Baca juga: Khofifah Ajak Masyarakat Indonesia Adopsi Nilai Keteladanan Gus DurSalah satu nilai yang di junjung tinggi oleh Gus Dur adalah egalitarian atau kesetaraan. Ketika kita sudah menggunakan nilai tersebut, maka ia sudah menjadi sudut pandang. Value itu bagaimana Anda menjadikannya sebagai pegangan, sehingga dimanapun berada, Anda akan selalu menggunakannya.
"Jadi mau apapun saya dan dimanapun saya, nilai itu yang akan selalu saya pakai. Misal ketika saya menjadi seorang pemain teater maka sudut pandang yang saya gunakan yakni egalitarian. Begitu pun seterusnya," ujarnya.
"Jika itu sudah masuk dalam pikiran kita, segala bentuk tindakan apapun yang kita lakukan, kita pasti akan menggunakan pandangan itu," pungkas Inaya.
(est)