Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 01 Mei 2026
home wirausaha syariah detail berita

Ingin Jadi Produsen Dunia, Bagaimana Kondisi Fesyen Muslim Indonesia?

fajar adhitya Selasa, 29 Juni 2021 - 15:19 WIB
Ingin Jadi Produsen Dunia, Bagaimana Kondisi Fesyen Muslim Indonesia?
Ilustrasi Indonesia menjadi pusat fesyen muslim dunia. Foto: Langit7.id/Istock
LANGIT7.ID, Jakarta - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno berharap Indonesia bisa menjadi pusat fesyen muslim dunia. Menurutnya, Indonesia memiliki modal dan segudang potensi mulai dari SDM, pasar, hingga fesyen desainer yang berkualitas.

Ia menjelaskan, sumbangsih PDB sektor ekonomi kreatif (ekraf) bagi Indonesia kini menjadi nomor tiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dengan Hollywood dan Korea Selatan dengan K-POP. Sektor ekraf sudah menyumbangkan PDB sebesar Rp1.100 triliun dari 17 subsektor ekraf, yang didominasi fesyen, kuliner, dan kriya.

"Jumlah masyarakat muslim kita selama ini hanya menjadi pasar dan kita ternyata banyak mengimpor produk-produk halal," ujarnya dalam keterangan tertulis.

"Untuk itu kita harus menjadi pemain bukan menjadi penonton, kita ingin menjadikan Indonesia atau Jakarta sebagai ‘Moslem fashion capital of the world’. Karena kita memiliki semuanya. Baik desainernya, pasarnya ada, perlu dukungan dari semua untuk mewujudkannya,” imbuhnya.

Mengutip Data Opus yang menyebutkan dari total PDB sebesar Rp1.100 triliun, sebesar Rp175 triliun disumbang oleh subsektor fesyen. Sebanyak 33,4 persen pelaku ekraf di Indonesia berasal dari subsektor fesyen, di mana totalnya mencapai 2,5 juta orang.
Nilai ekspor subsektor fesyen juga yang terbesar, total mencapai 15 juta dolar AS pada 2019. Sayangnya, Indonesia menjadi negara ketiga konsumen busana muslim terbanyak setelah Turki dan Uni Emirat Arab.

"Pasarnya besar, banyak pengusahanya tapi belum banyak ekosistem yang terbangun. Saya yakin anak muda saat ini bisa menjadi lokomotif perubahan kedepan. Lantaran sekarang lebih terbuka, lebih inklusif, dan gerakan ekonomi syariah ini paling dinikmati oleh anak-anak muda,” katanya.

Desainer busana muslim Nanida Jenahara Nasution menjelaskan, produk-produk fesyen muslim di tanah air memiliki kualitas yang sangat baik untuk pasar global. Namun perlu ada dukungan agar produk-produk tersebut bisa diterima dan mendapatkan tempat di hati masyarakat lokal. Kemudian, butuh kolaborasi semua pihak agar produk muslim yang dibuat bisa mendapat market yang luas.

“Yang penting adalah bagaimana stay update dengan yang sedang tren, dan sekarang juga adalah zamannya kolaborasi. Kita enggak bisa ingin jadi yang happening sendiri. Sama-sama bergandengan tangan untuk sukses bersama,” ujarnya.
Konsumsi Fesyen Muslim Global

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, menyebut perkembangan jumlah umat muslim dunia menjadi salah satu pemicu utama yang mendorong pertumbuhan industri fesyen muslim.
The State Global Islamic Ecomony Report 2020/2021 yang melaporkan konsumsi fesyen muslim dunia 2019 diperkirakan mencapai US$277 miliar sedangkan konsumsi fesyen muslim dunia pada 2024 diperkirakan mencapai US$311 miliar.

"Sementara konsumsi fesyen muslim Indonesia pada 2019 adalah senilai US$16 miliar terbesar kelima di dunia setelah Iran, Turki, Saudi Arabia dan Pakistan” tambah Gati.

Terpukul Pandemi

Sementara itu, menurut Laporan Ekonomi dan Keuangan Syariah 2020, sektor fesyen muslim mengalami kontraksi didorong oleh pelemahan kinerja pada seluruh subsektornya. Sektor fesyen muslim terkontraksi -8,87% pada tahun 2020.

Pencapaian ini jauh menurun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai pertumbuhan 12,38. Jika dilihat dari pola triwulanan selama 2020, sektor fesyen muslim mengalami kontraksi di setiap triwulan

Kedua subsektor yang berkontribusi terhadap sektor fesyen muslim mengalami kontraksi. Secara tahunan subsektor Industri Tekstil dan Pakaian Jadi terkontraksi -8,88% dan berkontribusi -7,46% terhadap kontraksi sektor fesyen muslim periode 2020.

Sementara itu, subsektor Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki terkontraksi -8,75%, sehingga berkontribusi -1,40% terhadap kontraksi sektor fesyen muslim periode 2020. Subsektor Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki yang telah mengalami kontraksi pada periode sebelumnya, terkontraksi makin dalam pada 2020.

Kondisi pelaku usaha sektor fesyen muslim selama pandemi Covid-19 dikonfirmasi dari hasil survei yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia pada triwulan IV 2020. Mayoritas responden yang bergerak di bidang usaha fesyen muslim mengalami dampak negatif akibat pandemi Covid-19.

Di sisi lain, 9,60% responden menerima dampak positif. Meskipun dampak negatif dialami oleh mayoritas responden, sebanyak 39,6% responden tidak melakukan pengurangan karyawan.

Komponen model bisnis pada usaha fesyen muslim yang paling terdampak oleh pandemi Covid-19 adalah permintaan menurun, penurunan omzet penjualan, kehilangan konsumen, kesulitan memperoleh bahan baku produksi, dan kapasitas menurun. Selain dampak pada komponen model bisnis yang bersifat negatif, sebanyak 0,26% responden justru mengalami kenaikan usaha.

(zul)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 01 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:50
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)