LANGIT7.ID, Semarang - Laksamana asal Tiongkok yang beragam Islam, Zheng He atau dikenal dengan nama Cheng Ho, berlayar melewati Laut Jawa. Namun saat melintasi laut tersebut, banyak awak kapalnya yang sakit, sehingga ia memerintahkan untuk membuang sauh dan merapat di Semarang untuk berlindung di sebuah goa.
Petilasan Cheng Ho yang masuk wilayah Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat itulah yang saat ini menjadi tempat berdirinya sebuah Kelenteng Sam Poo Kong. Salah satu bukti kuat, kawasan itu merupakan petilasan Cheng Ho setelah ditemukan tuliskan "Marilah kita mengheningkan cipta dengan membaca Al-Quran" dan terdapat makam kapten kapal Wang Ji Hong.
Konon, setelah menetap beberapa lama di sana, Cheng Ho melanjutkan pelayaran dan meninggalkan banyak awak kapal termasuk kyai juru mudi bernama Wang Ji Hong, atau Dampo Awang. Wang Ji Hong dikisahkan sakit dan meninggal di tanah Jawa. Sementara, awak kapal lainnya menikah dengan warga lokal dan hidup dengan bercocok tanam.
Untuk mengenang Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa membangun sebuah kelenteng, bernama Sam Poo Kong yang menjadi tempat peringatan dan bersembahyang. Kelenteng itu berjarak sekitar 2,5 kilometer dari bibir pantai Semarang.
Di dalam goa batu kelenteng, diletakkan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien. Meski Laksamana Cheng Ho seorang muslim, tapi masyarakat menganggapnya sebagai dewa, sebab agama Konghucu atau Taoisme menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberi pertolongan kepada mereka.
Sam Poo Kong memiliki beberapa kompleks bangunan, di antaranya bangunan kelenteng utama, kelenteng Kyai Juru Mudi, Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Kyai Jangkar, Kelenteng Kyai Nyai Tumpeng, Kyai Tjundrik Bumi, serta Gua Pemujaan Sam Poo Kong.
Pada dinding luar bangunan, terdapat lapisan relief yang menceritakan ekspedisi Laksamana Cheng Ho di abad ke-15 selama 30 tahun. Batu relief tersebut langsung didatangkan dari tiongkok dan dipahat oleh seniman Bali.
Selain menjadi tempat melaksanakan peribadatan, kelenteng tersebut saat ini menjadi salah satu destinasi wisata yang menyedot banyak wisatawan. Menariknya, masih di dalam kompleks kelenteng, di ujung sisi timur bagian depan, disediakan musola yang berukuran sekitar 5x5 meter.
Bangunan berwarna merah, berarsitektur Tiongkok ini memiliki bagian atapnya melengkung ke bawah. Juga dilengkapi dengan tempat wudhu. Tempat ibadah umat Islam dan Khonghucu berdiri berdampingan.
(bal)