LANGIT7.ID, Palembang - Bercocok tanam dengan teknik hidroponik kini tidak asing lagi. Hidroponik sendiri dikenal dengan kemudahan dalam menanam sayuran tanpa media tanah.
Metode tersebut tentunya menjadi pilihan yang tepat bagi Sobat Langit7 yang ingin menanam sayuran, namun tinggal di perkotaan dengan lahan sempit.
Berbicara soal hidroponik, warga Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Perda Sari Dewi telah melakoninya sejak awal 2013 lalu. Perda sendiri adalah pemilik Green Corner Hidroponik di kota pempek itu.
Berawal dari mengisi waktu luang karena gagal liburan ke Yogyakarta, hasil panen hidroponik miliknya kini telah menembus pasar modern yang berada pada mal-mal di kota yang terkenal dengan ikon Jembatan Amperanya. Mulai dari Carrefour, Diamond, Farmers Market, Hypermart dan lainnya.
“Awal mulanya terjun ke dunia bertani hidroponik ini mau liburan akhir tahun 2012. Tapi, saya dan suami saya (Adi Al Qodry) gagal liburan karena tidak dapat tiket pesawat,” ujar Perda saat dijumpai di green house-nya yang terletak pada perkarangan rumahnnya di Jalan Meriam Karya, Lorong Karya 4, No. 457, Sekip Ujung, Kota Palembang, Kamis (29/7).
Kegagalan untuk liburan tentu membuat mereka kecewa karena momen itu sudah dinantinya. Kendati begitu, untuk mengisi waktu luang di rumah akhirnya dirinya memutuskan untuk bermain media sosial atau medsos saja.
“Dari sanalah akhirnya saya menemukan informasi tersebut (berkebun sayuran hidroponik di halaman rumah). Apalagi, saat itu (2012 akhir) di Palembang juga hidroponik ini masih banyak yang belum tahu,” ucapnya.
Singkat cerita, kata dia, proses dapat rutin mengirim sayuran hidroponik berlabel Palembang Green Corner pun terbilang mulus dijalaninya.
“Kami awalnya menawarkan dari mulut ke mulut hingga ada yang datang ke rumah untuk beli. Lalu, menawarkan ke pasar-pasar tradisional dan ternyata disambut baik hingga kami bisa mengirim untuk di sejumlah pasar swalayan,” katanya.
Kini, Green Corner Hidroponik miliknya mempunyai satu unit
green house hidroponik berukuran 15x8 dengan kapasitas tiga ribu lobang tanam. Ada pula instalasi hidroponik di luar green house dengan jumlah lobang tanam sekitar 1.000 lobang.
Jenis tanaman yang ditanam pun, sambung dia, saat ini menanam sesuai dengan apa yang banyak diminta pelanggan.
“Biasanya itu ada beberapa jenis yang rutin dipesan pelanggan. Mulai dari selada, pakcoy, rosemary, kangkung, sawi caisim, kailan, bayam merah, hingga bayam hijau,” jelasnya.
Perda bersama suaminya pun mengatur pola tanamnya. Hal tersebut guna menjaga produksi kebunnya agar bisa dipanen setiap hari. Dalam sebulan, ia dapat memanen sayuran hidroponik hingga 1,5 ton.
“Hasilnya kami jual ke pasar ritel, mal, restoran dan hotel di Kota Palembang. Kadang juga masih ada yang datang langsung ke kebun, tapi itt kami sesuaikan stok dan asalkan tidak mengganggu pesanan rutin pelanggannya,” ungkap dia.
Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 yang belum berakhir, diakuinya sempat mengganggu. Hanya saja, bisnisnya tersebut hanya terdampak selama sebulan saja.
“Di awal-awal pandemi pemesanan dari sejumlah usaha rumah makan ataupun hotel sempat mengalami penurunan, sekarang sudah normal lagi. Karena kami juga beralih dari semula menerapkan B2B (Business to Business) ke B2C (Business to Customer),” ujar dia.
Sementara itu, Adi menambahkan untuk omzet dari Green Corner Hidroponik tersebut bisa meraup keuntungan yang lumayan menggiurkan per bulannya. “Ya, bisa meraup omzet hingga puluhan juta lah dalam sebulan,” singkat Adi.
Selain itu, dirinya berbagi tips dalam berbisnis sayuran hidroponik. “Kuncinya adalah menjaga suplai barang. Bukan hanya mengatur pola tanam, tapi juga menggandeng sejumlah petani hidroponik lainnya yang ada di Palembang sebagai mitra atau plasma,” tambah dia.
Ditambahkannya, saat ini yang aktif ada sekitar sepuluh orang petani hidroponik di bawah kemitraan yang siap menyuplai berbagai jenis sayuran.
“Ya, kalau hanya mengandalkan hasil dari green house kita sendiri, ya tidak akan cukup,” tutup dia.
(zul)