LANGIT7.ID, Magelang - Allah SWT memiliki kuasa untuk membolak-balikkan hati umat manusia. Seseorang yang tadinya sangat kejam dan dengan mudah membunuh orang yang tidak bersalah sekalipun, ternyata dikemudian hari mendapat hidayah lalu bisa menjadi seorang ustadz.
Adalah seorang bernama Parto Tepos, preman besar di Magelang yang tobat meninggalkan dunia hitam, lalu nyantri dan kemudian menjadi seorang ustaz ini diceritakan oleh KH Syahidin Sladi, pengasuh Ponpes Salafiyah, Sladi Gayam, Kecamatan Kejayan, Pasuruan, Jawa Timur.
Parto Tepos ini jadi ustaz setelah belajar agama kepada Almagfurlah KH Chudlori, saat mondok di Tegalrejo Kabupaten Magelang. KH Chudlori, adalah guru dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Merupakan, mantunya Mbah Dalhar, seorang wali besar. KH Chudlori ini juga belajar agama kepada KH Hasyim Ashari.
Baca juga: Inspiratif, Kisah Perjuangan Kiai Tohir Menuntut Ilmu Jadi PanutanSebelum menjadi ustaz, diceritakan KH Syahidin Sladi, di sekitar Pondok Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten, Magelang yang didirikan KH Chudhori di tempatnya Pangeran Diponegoro, di situ ada bajingan terkenal namanya Parto Tepos.
“Bajingan ini bukan susah begal. Saking hebatnya. Kalau ada orang kaya, didatangi. Parto Tepos minta duit sekian, kalau tidak diberi
dipateni (dibunuh). Seneng
bojone wong (suka wanita bersuami).
Kon gowo rene tak kumpuli (suruh bawa kesini untuk dikawini). Tidak dibawa ke sini.
Dipateni (dibunuh). Kebal,” cerita Kh Syahidin di kanal Youtube Gus Yusuf Chudlori.
Singkat cerita, Parto Tepos ini
loro nemen (sakit sekali) dan lama tidak sembuh. Yang namanya seorang preman besar, seperti itu, sangat masuk akal ketika sakit, orang satu kampung tidak ada yang menjenguk. Bahkan, warga banyak mendoakan keburukan kepada preman tadi.
Akan tetapi, Kiai Chudlori tidak seperti warga pada umumnya, beliau menyambangi. KH Chudlori mengamalkan sebuah hadist, yang berbunyi, “Tidak boleh orang dosanya besar, diberi putus asa,”.
Melihat yang menjenguk adalah KH Chudlori, musuh utamanya, Parto Tepos pun langsung menangis. Pada saat menjenguk tersebut, Parto Tepos dibesarkan hatinya agar lebih semangat dan bisa segera pulih dari sakit.
“Mas Parto tidak usah susah-susah, dosanya dikurangi karena sakit,” kata KH Chudhori memberi nasehat, ditirukan KH Syahidin.
Baca Juga: Kenalan dengan Ustadz Wildan Hasan, Berdakwah Memanfaatkan MedsosParto Tepos sudah tidak bisa apa-apa, diberi minum, disuwuk, dan disambangi rutin hingga sembuh. Setelah sembuh, kemudian nyantri di Kiai Chudhori sampai jadi ustaz.
Menurut KH Syahidin, terkadang juga perlu seorang kiai memiliki murid seorang preman. Jika ada seseorang yang membuat keributan di pondok, secara naluriah, seorang bekas preman akan maju ke depan dan membela kiai, gurunya di pondok.
“Tidak boleh mendoakan cepat mati.
Didongakke (didoakan). Sampai
dadi waras (sampai sembuh). Tobat sampai jadi orang baik. Orang baik itu tidak mesti (baik terus).
Dadi wong yo ibadah sing mempeng (jadi orang ibadah yang rajin). Kalo ada orang banyak salah, mau tobat, diterima aja. Jangan dinerakakan, dijahanam-jahanamkan,” ucapnya
Baca Juga: Mengenal KH Abdul Syukur Yusuf, Penerus KH Arifin Ilham di Majelis Az-Zikra Tapi sayangnya yang banyak saat ini, seperti yang disampaikan Imam Ghozali bahwa dakwah itu rusak karena banyak orang bodoh membela agama Islam.
(sof)