Kenalan dengan Ustadz Wildan Hasan, Berdakwah Memanfaatkan Medsos
mahmuda attar husseinJum'at, 15 April 2022 - 16:00 WIB
Ustadz Wildan Hasan dalam Apa Kabar Ustadz. (Foto: Langit7).
LANGIT7.ID, Jakarta - Medsos yang berkembang signifikan perlu dimanfaatkan sebagai wadah untukberdakwah. Apalagi, sebagian besar masyarakat saat ini berkegiatan secara online.
Pendakwah, Ustadz Wildan Hasan menyebutkan, dunia dakwah di era digital saat ini mengharuskan para pendakwah untuk turut terlibat.
"Kalau tidak terlibat, dakwah kita akan konvensional. Walaupun secara konvensional memang tetap harus dilakukan, tapi kita juga harus mulai memasuki dakwah secara digital," ujarnya dalam Apa Kabar Ustadz LANGIT7, Jumat (15/4/2022).
Bahkan, kata dia, medsos seperti TikTok yang saat ini banyak berisi konten joget juga perlu disusupi dengan dakwah. Namun, dakwah di sini harus dikemas dengan menarik menyesuaikan karakteristik penggunanya.
"Materi dakwah yang menarik, unik, dan menyenangkan ini tujuannya agar diminati generasi milenial. Jadi tinggal bagaimana kreatifnya media untuk menghadirkan nilai Islam di medsos," jelasnya.
Dia menambahkan, ketika dakwah tidak mulai beradaptasi, dikhawatirkan akan semakin tertinggal dan tidak diminati oleh setiap kalangan.
"Kita masuk di era disrupsi informasi, kalau kita tidak berubah maka kita akan punah," ungkapnya.
Produktif menulis buku
Muslim kelahiran Majalengka 41 tahun silam ini juga dikenal cukup produktif. Di mana dia telah menulis setidaknya 13 buku.
"Buku pertama saya tahun 2012, dengan judul 'Bawalah Facebookmu ke Surga'. Untuk temanya itu merupakan kumpulan dari status di Facebook saya," jelasnya.
Sementara buku-buku lainnya bertemakan soal pemikiran tokoh, pendidikan, kepemimpinan, dan keluarga. Saat ini, Wildan sedang berfokus mengkaji pemikiran dan perjuangan Muhammad Natsir, yang merupakan ulama sekaligus pahlawan nasional.
"Saya kira yang menjadi kegelisahan saya adalah kalau ilmu ini tidak ditulis akan begitu saja dibawa mati. Buku akan tetap diminati banyak orang dan bisa kita wariskan kepada generasi berikutnya," katanya.
Belajar dakwah dari pesantren
Muslim 3 anak ini mengaku bisa berdakwah berkat pesantren. Di masa menjalani pendidikannya, Wildan merupakan santri di pondok pesantren Persatuan Islam.
"Pelajaran paling berbekas dari pesantren yang pasti adalah kemandirian. Di mana kita hidup ibarat di prototype lingkungan masyarakat," jelasnya.
Dengan perbedaan karakter dan tujuan masing-masing santri, di situ dia belajar untuk bisa saling toleransi dan memahami satu sama lain.
"Akhirnya itu terpakai untuk kita memahami kondisi masyarakat dan karakternya di lingkungan sebenarnya," ujarnya.
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”