LANGIT7.ID, Jakarta -
Ramadhan merupakan momen terbaik untuk memaafkan diri dari kekeliruan selama ini. Berbagai kesalahan tersebut dikhawatir dapat menimbulkan psikosomatis.
Psikolog, Asep Haerul Gani mengatakan,
pemaafan berangkat dari rasa sakit yang timbul akibat pikirkan negatif dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bukan rasa sakit yang sesungguhnya.
"Dalam istilah medis itu disebut psikosomatis atau sakit yang timbul atas trauma dalam diri," ujar dia seperti dilansir laman ITB, dikutip Rabu (20/4/2022).
Menurutnya, hal tersebut timbul karena ketidakmampuan seseorang dalam melakukan pemaafan. Padahal, dengan melakukan maaf, maka secara tidak langsung akan memberikan rasa tenang dan aman dalam diri.
Baca Juga: Umat Islam akan Menjalani 2 Kali Ramadhan pada Tahun 2030“Kebanyakan orang, baru dapat memaafkan ketika diperlakukan tidak adil atau disakiti oleh orang lain, karena dari situ dia baru sadar bahwa dirinya memerlukan sebuah pemaafan atau balasan yang setimpal dari orang yang menyakiti,” jelas Asep.
Lebih lanjut, Asep juga menyebutkan, sebagian besar penyakit yang dikeluhkan pasien justru bersumber dari diri sendiri. Sebab, diri sendiri adalah tempat terbaik untuk melakukan pemaafan.
"Kita harus memaafkan diri kita sendiri terlebih dahulu, serta bagaimana kita menghapus tembok-tembok rasa bersalah yang menghalangi pemaafan," katanya.
Tuntutan untuk pemaafan muncul ketika seseorang merasa dirinya diperlakukan tidak adil. Sehingga butuh tempat pelampiasan dendam yang setimpal, dan berusaha menanggapi prinsip moral belas kasih yang timbul dari perasaan kasihan, penghargaan tanpa syarat, murah hati dan cinta moral.
“Pemaafan bukanlah sebuah perilaku reaktif, tetapi perilaku inisiatif dan proaktif. Dimulai dengan menjadikan diri kita fokus dan memiliki niat untuk selalu berbuat baik," katanya.
Menurutnya, bagi orang yang belum bisa menunjukan cinta kasih, maka tidak bisa melakukan pemaafan. Hal itu dikarenakan maaf berbeda dengan memaklumi, membiarkan, mengalah, melupakan, pengampunan, perdamaian, ataupun pembenaran.
"Pemaafan adalah menjadikan diri kita untuk terus berbuat baik pada orang lain tanpa adanya niatan buruk sedikit pun,” jelas Asep.
(bal)