Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 03 Mei 2026
home wisata halal detail berita

Tradisi Lebaran Ketupat dari Sudut Pandang Islam, Ini Maknanya

mahmuda attar hussein Senin, 09 Mei 2022 - 10:40 WIB
Tradisi Lebaran Ketupat dari Sudut Pandang Islam, Ini Maknanya
Ilustrasi lebaran ketupat yang menjadi tradisi masyarakat Jawa. (Foto: Istimewa).
LANGIT7.ID, Jakarta - Sepekan usai Idul Fitri, masyarakat Jawa biasanya memiliki tradisi untuk merayakan Lebaran Ketupat. Namun hari raya ini bukan bagian dari ajaran Islam.

Lantas bagaimana Islam memandang tradisi masyarakat terkait Lebaran Ketupat ini?

Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim, KH Ma'ruf Khozin menjelaskan, Lebaran Ketupat merupakan tradisi yang biasa dirayakan masyarakat Jawa dan tidak tercantum dalam Al Quran. Juga tidak dirayakan oleh Nabi besar Muhammad SAW.

"Lebaran Ketupat bagi sebagian orang dimaknai sebagai hari raya untuk orang yang menjalankan puasa di bulan Syawal," ujarnya seperti dilansir MUI Jatim, Senin (9/5/2022).

Baca Juga: Sejarah Disunnahkannya Syawal Jadi Bulan untuk Menikah

Perayaan ini, kata dia, dianggap harus dilakukan sebagai bentuk apresiasi bagi umat muslim yang menjalankan puasa Syawal, setelah sebelumnya berpuasa selama satu bulan saat Ramadhan.

Sesuai namanya, dalam tradisi ini masyarakat akan menghidangkan ketupat, yang merupakan makanan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman daun kelapa muda (janur).

"Perayaan Ketupat bukan tambahan ibadah, tidak ada unsur-unsur ibadah sama sekali. Tidak ada takbiran, tidak ada bentuk shalat, dan lainnya. Namun, hanya sekadar bentuk menghantar sedekah makanan berbentuk ketupat," jelasnya.

Secara filosofis Lebaran Ketupat dimaknai sebagai penebusan dosa. Seperti bentuk anyaman ketupat yang memiliki pola cukup rumit, yang digambarkan sebagai dosa dan kesalahan manusia yang harus ditebus.

"Penebusan dosa ini dilakukan melalui silaturahmi dan saling memaafkan antar manusia," ujarnya.

Peringatan hari besar dalam Islam

Ma'ruf Khozin menyebutkan, terdapat dua hukum yang melekat dalam memperingati hari raya kaitannya dengan Islam. Pertama, seperti Idul Fitri dan Idul Adha yang dijelaskan dalam agama.

"Kedua, tidak dijelaskan dalam agama seperti hijrah, Isra’ dan Mi’raj, serta Maulid Nabi," jelasnya.

Adapun perayaan yang dijelaskan dalam ajaran Islam hukumnya disyariatkan. Dengan syarat dilakukan sesuai perintah-Nya.

Sementara perayaan yang tidak dijelaskan dalam ajaran Islam memiliki dua pendapat. Pendapat pertama melarang karena bid'ah, dan pendapat kedua membolehkan karena tidak ada dalil yang melarangnya.

"Kesimpulannya, apapun bentuk perayaan yang baik adalah tidak apa-apa, selama tujuannya sesuai dengan syariat dan rangkaian acaranya masih dalam koridor Islam," ungkapnya.

Artinya sebuah peringatan hari besar boleh disebut sebagai perayaan. Sebab, penilaian yang dilakukan lebih menitikberatkan pada subtansi, bukan nama.

"Sekali lagi, Hari Raya Ketupat hanya sekadar bersilaturahmi ke tetangga dan kerabat dengan menyuguhkan makanan khas ketupat, yang inikmati bersama setelah puasa sunah 6 hari bulan Syawal," jelasnya.

Menurutnya, merayakan Lebaran Ketupat termasuk melaksanakan perintah Nabi Muhammad SAW, seperti yang dijelaskan dalam hadits.

“Jika kamu memasak kuah maka perbanyak airnya, lalu perhatikan keluarga tetanggamu. Kemudian beri bagian kepada mereka dengan baik.” (HR Muslim dari Abu Dzar).

Wallahu a'lam bishawab.

(bal)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 03 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)