LANGIT7.ID, Jakarta - Ecodoe, sebuah website atau
platform business to business (B2B) mengusung konsep ekonomi gotong royong. Ecodoe memberikan kesempatan kepada UMKM Indonesia peluang menjadi
supplier pengadaan barang. Upaya perusahaan membantu mitra penjahit untuk memenuhi kebutuhan pokok dan membantu biaya anak sekolah.
“Itu artinya kita memberi kesempatan kepada beberapa mitra penjahit untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, biaya sekolah anaknya, dan juga bahkan membiayai pegawainya yang juga memiliki keluarga. Ini ibarat
snowball effect, manfaatnya terus bergulir,” ujar CEO Ecodoe, Laras Widyati kepada Langit7.
Hingga kini produk
corporate gifting tetap menjadi
best seller. Ecodoe juga membantu UMKM berinovasi dengan paket menarik serta sesuai kebutuhan pelanggan di masa
new normal.
“Alhamdulillah hingga hari ini sudah lebih dari 500 ribu produk UMKM yang dibeli oleh 12 ribu B2B di
platform Ecodoe,” ujarnya.
Dalam strategi pemasaran, Ecodoe pada awalnya mengandalkan penjualan
offline dari toko. Baru ketika sempat hampir bangkrut, pada 2017 Ecodoe melakukan peralihan dengan menggunakan pemasaran digital, yang bahkan bisa tumbuh hingga 800 persen dalam setahun.
“Saat pandemi saya pun baru menyadari bahwa digital marketing tidak cukup, kita harus mixing dengan memperkuat branding agar lebih sustain ke depannya,” imbuhnya.
Dari kerja sama mitra yang dijalin, beberapa UMKM telah mampu untuk re-invest terkait usaha mereka, seperti membeli barang untuk kebutuhan operasional usaha. Bahkan, dari usaha rumahan di dua tempat berbeda, UMKM bisa membuat produk dengan kualitas sama dan pelayanan yang cepat karena Ecodoe mensupport standarisasi produk mereka.
“Sehingga apapun produk atau pesanan, kita bisa sama-sama bergotong-royong untuk terus-menerus membuat
snowball effect ini. Selain itu, layanan pengadaan omnichannel memungkinkan klien untuk membeli produk kami secara digital via
website sistem e-procurement kami, serta dengan melihat langsung sample produk karya UMKM secara
offline melalui
virtual store dan
offline store,” jelasnya.
Ecodoe juga memberikan binaan kepada mitra UMKM mereka. Sehingga terdapat kriteria yang melandasi kerja sama UMKM dengan Ecodoe. Di antara sekian banyak UMKM yang ada, Ecodoe akan mengutamakan mereka yang telah memiliki pencatatan keuangan yang baik.
“Jadi ketika ada pesanan, mereka masih mau terus belajar memperbaiki alur operasional bisnisnya mulai dari kualitas produk yang baik, pengerjaan tepat waktu, komunikasi lancar, dan bertanggungjawab,” ujarnya.
Laras mengatakan, sebelum adanya pandemi Ecodoe berfokus untuk menghubungkan pengadaan produk
corporate gifting yang dibuat oleh UMKM Indonesia. Saat dilanda pandemi, Ecodoe menjadi salah satu yang bisa dengan cepat beradaptasi dengan hal itu dan membina UMKM untuk mempersiapkan segala kebutuhan pasar ke depan.
“Ada cerita menarik karena pasien pertama Covid-19 terkena di lantai 1 gedung kantor yang pernah kami sewa, sehingga kemudian kami memiliki waktu lebih awal untuk beradaptasi serta mengedukasi UMKM agar memproduksi produk yang relevan dengan kebutuhan pasar ke depan. Jadi saat itu UMKM banyak yang bertransformasi membuat APD dan Ecodoe
support dengan legalitas alat kesehatan sesuai standar pemerintah,” jelasnya.
Laras berharap Ecodoe Group bisa menjadi jembatan bagi UMKM Indonesia untuk terus berkembang. Selain itu, ia juga berencana bahwa Ecodoe akan menjadi perantara klien B2B dari seluruh dunia untuk dapat membeli produk pengadaan dari UMKM Indonesia yang sudah terstandar global.
(zul)