LANGIT7.ID - Dai kondang sekaligus pendiri Quantum Akhyar Institute, Ustadz Adi Hidayat (UAH), memaparkan keuntungan dunia akhirat para orang tua jika menyekolahkan anak di pesantren. Saat ini pesantren menjadi wadah terbaik untuk menyiapkan anak dekat kepada Allah SWT.
Terlebih lagi banyak pesantren dengan metode modern. Selain mengajarkan kitab klasik (kitab kuning), para santri juga diajari berbagai macam cabang ilmu seperti sains dan humaniora. Fakta itu membantah anggapan bahwa lulusan pesantren hanya mampu berceramah dari masjid ke masjid.
Di dalam pesantren, anak-anak sudah otomatis belajar Al-Qur'an dan hadits. Ketika anak-anak menghafal Al-Qur’an maka semua cabang ilmu akan terbuka. Contoh paling konkrit adalah Prof. Dr. dr. Yusri Rusydi Sayyid Jabr Al-Hasani. Dia merupakan dokter ahli bedah, ulama, dan penghafal Al-Qur’an. Dia menghafal Al-Qur’an saat menjadi mahasiswa kedokteran di Al-Azhar Kairo, Mesir.
“Jadi, jangan takut. Orang-orang yang menyiapkan anaknya untuk dekat dengan Allah, bahkan dalam Al-Qur'an, rezekinya dijamin oleh Allah. Masukkan anak ke pesantren. Bukan tega enggak tega, dekatkan anak dengan Allah. Kalau sudah seperti itu, Allah yang jamin,” ucap UAH melalui Channel Akhyar TV, dikutip Selasa (3/8/2021).
Jaminan Allah SWT itu termaktub dalam surah Ali-Imran ayat 35-37. Istri Imran, Hanah, saat masih mengandung bernazar akan menyiapkan anaknya untuk mengabdi kepada Allah SWT. Saat Maryam binti Imran lahir, Imran dan Hannah langsung mencarikan orang shalih sebagai pembimbing. Keduanya sepakat untuk membawa Maryam ke Nabi Zakaria.
Mencarikan guru yang pintar dan shalih adalah pesan dari Al-Qur’an. Banyak guru yang pintar, tapi tidak memiliki keshalihan, sehingga tidak bisa membimbing spiritual anak. Selain guru yang pintar dan shaleh, Al-Qur’an memerintahkan untuk mencarikan anak tempat yang baik. Dalam konteks Al-Qur’an disebutkan mihrab. Mihrab artinya tempat khusus untuk mendekatkan seseorang kepada Allah.
“Kalau konteks sekarang sekolah, maka cari sekolah sekolah yang mendekatkan anak kepada Allah. Di sekolah itu dia menghafal Al-Qur'an, belajar hadits, belajar sains, belajar matematika. Banyak pesantren dengan metode ini. Sekarang banyak pesantren, ada yang di Bogor, Bekasi, Kalimantan, ada yang di Sulawesi. Silakan pilih,” kata UAH.
Saat dua poin di atas terpenuhi, maka janji Allah dalam surah Ali-Imran ayat 37 akan terwujud. Allah SWT berfirman:
“Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, ‘Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh?’ Dia (Maryam) menjawab, ‘Itu dari Allah’. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”
Anak tak hanya menjadi hamba yang dekat kepada Allah, namun Dia mencukupkan semua kebutuhan dunianya. Terlihat setiap kali Zakaria berkunjung ke mihrab Maryam membawakan kebutuhan sehari-hari. Semua kebutuhan itu sudah tersedia, dan bahkan lebih baik. “Ini dari Allah.” Kata Maryam.
“Coba praktekkan, memasukkan anak anda ke pesantren Qur’an, begitu lima tahun hafal Al-Qur’an, maka akan terjadi perubahan dalam hidup anda. Indahnya begini pak, antum dari kantor capek banget, pekerjaan berat, jalan macet, ketika masuk kamar anak anda yang empat tahun sedang mengulang hafal, hilang semua penat anda,” ucap UAH.
UAH mencontohkan jika ada orang tua yang mendapat telepon dari pihak pondok pesantren. Dari balik telepon, ustadz mengabarkan perihal anak yang sudah sukses menghafal 30 juz. Saat itu, ada sebuah kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dalam kata-kata.
“Begitu anda mendapat telepon dari pesantren, ‘buk pak, selamat ya, sekarang adinda sudah menyelesaikan hafalan Quran. Dia sudah menjadi hafidz/hafidzah’. Anda bisa diam seribu Bahasa ditelpon seakan-akan mendapatkan sesuatu yang tidak pernah didapatkan sebelumnya. Jatuh dan sujud kepada-Nya. Itu baru Qur'annya. Apalagi kalau yang nelpon itu adalah anak anda. Yang ada hanya nikmat. Tidak percaya,” tutur UAH.
(jqf)