LANGIT7.ID, Palembang - Masjid Besar Al Mahmudiyah atau dikenal dengan Masjid Suro memiliki sejarah menarik. Bangunan rumah ibadah di Palembang ini ternyata usianya sudah satu abad lebih.
Lokasi masjid itu berada di Jalan Ki Gede Ing Suro, Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat (IB) II, Kota Palembang. Rumah ibadah ini didirikan salah salah satu ulama besar Palembang pada 1893 bernam K.H Abdurrahman Delamat.
Meski usia masjid sudah satu abad lebih, namun kondisi bangunan masih berdiri kokoh dengan bentuk yang serupa seperti awal dibangun. Selain tempat shalat, masjid ini berdiri untuk masyarakat yang ingin mendalami ilmu agama.
Sayangnya, penjajah Belanda yang mengetahui hal itu khawatir jika kegiatan keagamaan tersebut berkembang jadi upaya perlawanan. Akhirnya, Pemerintah Belanda menghentikan kegiatan di masjid itu.
Namun K.H Abdurrahman Delamat masih bersikukuh menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat sekitar. Pemerintah Belanda mengusir ulama tersebut. Dia pun pindah ke Dusun Sarika hingga meninggal dunia.
Di masjid itu pula memiliki keunikan, yakni sebuah kolam tempat berwudhu yang masih terlestarikan sampai saat ini.
"Walaupun kita sudah pasang pancoran buat wudhu, warga banyak memilih tetap menggunakan kolam di sini. Sebab, warga setempat mempercayai kalau air dalam kolam yang terletak di samping masjid ini mampu menyembuhkan berbagi penyakit," ujar Sekretaris Masjid Suro, Muhammad Irsan di Palembang, Selasa (3/8/2021).
Kekokohan masjid tersebut pun dapat dilihat dari bagian atapnya yang berundak-undak atau bertingkat dan bagian menaranya. Masjid ini pun memiliki 16 tiang.
"Ada empat tiang sokoguru dan 12 tiang penopang yang belum diganti. Diketahui kayu yang digunakan padahal hanya kayu kelas tiga. Namun, karena atas doa K.H Abdurrahman Delamat itu berubah jadi kayu kelas satu, kayu uglen," kata dia.
Bahkan, tiang penyangga bermaterial kayu berbentuk bulat tinggi dan mimbar yang digunakan untuk khotbah di masjid tersebut masih tetap asli hingga kini. Itulah yang menggambarkan betapa sangat gigihnya ulama menyiarkan Agama Islam.
"Di mimbar itu ada peti, tempat penyimpanan senjata-senjata saat melawan Belanda, sebelum beliau diasingkan," tutup dia.
(bal)