LANGIT7.ID, Jakarta - Beberapa startup seperti LinkAja, Zenius, TaniHub, dan JD.ID, banyak melakukan
PHK terhadap karyawannya. Hal itu dikarenakan kesalahan
strategi bisnis.
"Era Growth at All Cost akan segera berakhir. Sinyal di pasar menandakan preferensi yang kuat untuk perusahaan yang dapat menghasilkan uang pada saat ini," kata CEO dan founder Corporate Innovation Asia (CIAS), Indrawan Nugroho dalam keterangannya, Selasa (14/6/2022).
Profitabilitas yang kembali menjadi seksi, kata dia, membuat startup harus memotong biaya, merampingkan bisnis, dan menutup usaha yang tidak menguntungkan. Bahkan, sebagian startup ditutup dan kembali fokus pada bisnis intinya, lainnya harus menyesuaikan dengan lanskap pasar yang berubah.
Baca Juga: Jangan Salah Langkah, Ini Strategi Bisnis di Era Digital"Dalam proses itu pengurangan tenaga kerja kerapkali menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari. Semua itu harus dilakukan untuk memperpanjang laju bisnis mereka, sehingga bisa melewati situasi ini dengan selamat," ujarnya.
Hal itulah yang menyebabkan beberapa startup di Tanah Air harus melakukan PHK terhadap karyawannya. Di antaranya seperti Zenius yang menggunakan dana Rp500 miliar pada Maret tahun ini untuk mengakuisisi Primagama.
"Konsolidasi dan berbagai penyesuaian pun dilakukan termasuk mengurangi 200 karyawannya," ungkap dia.
Tanihub juga memindahkan fokusnya dari model bisnis B2C ke B2B. Konsekuensinya mereka harus menutup dua gudangnya dan mengurangi jumlah tenaga kerjanya.
Hal yang sama juga terjadi pada LinkAja yang harus melakukan penyesuaian karena biaya akuisisi pelanggan yang kini semakin mahal. Apalagi LinkAja tidak memiliki captive market seperti Gopay Shopeepay, dan Ovo.
"Konsolidasi bisnis yang berdampak pada pengurangan tenaga kerja seperti ini tidak hanya terjadi di dunia startup, perusahaan besar yang sudah mapan juga kerap kali melakukannya," katanya.
Menurutnya, hal itu adalah wujud adaptasi perusahaan yang memang harus dilakukan untuk menjawab dinamika pasar karena senantiasa berubah.
Seperti juga Unilever yang bulan April lalu baru saja memutus ratusan karyawannya. Di mana tekanan kondisi makro dan beban operasional perusahaan, mengharuskan Unilever untuk mengefisiensikan unit bisnis yang tidak menguntungkan.
(bal)