LANGIT7.ID - , Jakarta - Tiga hari lagi, tepatnya Kamis, 30 Juni 2022, film produksi MNC Pictures bertajuk
Ranah 3 Warna bakal tayang di bioskop Tanah Air. Film yang diadaptasi dari novel terlaris karya Ahmad Fuadi ini sarat akan pesan moral dan perjuangan seorang mahasiswa yang berhasil mengambil pelajaran dari tiga negara, yakni Indonesia, Yordania, dan Kanada.
Berlatar keindahan Kabupaten Agam, Sumatera Barat tahun 1992, film garapan Guntur Soeharjanto ini difokuskan pada kisah seorang anak bernama Alif Fikri (Arbani Yasiz). Alif merupakan murid
pesantren yang diterima di kampus negeri ternama di Bandung, Jawa Barat, yakni Universitas Padjajaran (Unpad).
Baca juga: Film Ranah 3 Warna, Kisah Anak Pesantren Kejar Cita-cita Sampai ke KanadaSaat tiba di Unpad, sesuatu hal menuntunnya untuk bertemu dengan redaksi majalah kampus. Alif pun mengajukan diri untuk menjadi salah satu penulis di situ. Meskipun awalnya ditolak, namun ia bersikeras dan berhasil untuk bergabung.
Karena Alif memang memiliki ketertarikan terhadap dunia penulisan, maka itu tidak butuh waktu lama baginya untuk bisa membuat tulisan yang mengesankan hingga dimuat beberapa kali di koran daerah, bahkan nasional.
Dalam film Ranah 3 Warna ini terlihat drama kehidupan Alif dengan emosi yang memancing air mata. Tokoh utama yang diangkat dapat menjadi inspirasi positif dalam berjuang menghadapi hidup, karier, masa depan, hingga percintaan.
Aktivis dan cendekiawan muda sekaligus sahabat Ahmad Fuadi,
Yudi Latif usai menonton gala premier film "Ranah 3 Warna", pada Kamis (23/06/2022) malam langsung menyampaikan komentarnya terkait film ini.
Menurut dia, hal yang menjadi pesan dari film Rana 3 Warna, yakni "Siapa yang bersabar akan beruntung". Kesabaran adalah menunggu. Namun, bukan menunggu secara pasif, melainkan terus berjalan, meski perjalanan lambat dan terjal.
Dia melanjutkan, apa yang membuat kesilaman sebagai kenangan keagungan dan kedatangan sebagai harapan kebahagiaan adalah kesabaran dan ketahanan mengarungi waktu.
"Apa yang kita perbuat dengan berkeringat akan menjadikan kita. Nasib adalah ketetapan yang terpahat lewat kegigihan ikhtiar dalam proses mewaktu. Seperti kata Leo Tolstoy, ”Dua petarung yang paling kuat adalah kesabaran dan penguasaan waktu," tulis Yudi dikutip Senin (27/6/2022).
Baca juga: Film Seeking The Imam: Keluarga Berperan Penting Dalam Menangkal Paham RadikalismeAlumni
Pondok Modern Gontor ini lalu berkata banyak orang mengutuk kegelapan, tanpa menyadari, perlu waktu bagi mentari terbit bersinar, sedang mereka sendiri menutup jendela rumahnya saat fajar menyingsing.
"Bila ruang jiwa kita cukup lebar, kegelapan adalah momen penantian yang mendebarkan. Seperti saat pekasih menanti sang kekasih tiba, yang menyambut kedatangannya dgn mematut diri dan menyiapkan hal-hal mengesankan," katanya.
Bila saatnya mentari terbit, tutur alumni
Universitas Padjadjaran ini cahaya akan menggenangi cakrawala dari ufuk ke ufuk. Namun, terkait seberapa banyak sinarnya menerangi ruangan tergantung seberapa lebar jendela rumah.
Melalui film tersebut, Yudi mengambil pesan moral untuk berhenti meratapi kegelapan. Sebab di kelamnya langit, mereka yang terjaga masih bisa menyaksikan keindahan bintang dan rembulan. Sedang di bawah terik matahari, mereka yang tidur lelap tetap hidup dalam kegelapan.
"Lebih baik menata rumah sendiri dengan melebarkan jendela jiwa. Ada saatnya malam berganti siang, gelap memanggil cahaya menggantikan. Bila rumah cukup besar menampung sinar pencerahan, akan di temukan jalan kemenangan dan kebahagiaan," pungkasnya.
Baca juga: Film Inang dan Horor Keliling Ambil Bagian di Ajang BIFAN Ke-26(est)