LANGIT7.ID, Magelang - Pengelola Taman Wisata Candi Borobudur akan menerapkan
physical carrying capasity atau batas maksimal bagi wisatawan yang datang ke sebuah objek wisata.
Ketua Badan Konservasi Borobudur, Bramantara mengatakan masalah kelestarian Candi Borodubur menjadi salah satu alasan kenapa Candi Borobudur perlu menerapkan
physical carrying capasity.
"
Physical carrying capasitybiasanya digunakan untuk menentukan ambang batas terkait perubahan lingkungan dengan berbagai gangguan yang mungkin terjadi di sebuah destinasi wisata," katanya dikutip Selasa (28/6/2022).
Baca juga: Akulturasi Budaya jadi Daya Tarik Desa Wisata Pecinan GlodokMenurut Bramantara, perhitungan
physical carrying capacity atau daya tampung fisik Candi Borobudur sudah dimulai pada 2006, bahkan riset dan pengumpulan data sudah dilakukan sejak 2003 dan menjadi bagian dari rekomendasi hasil riset beberapa waktu lalu.
"Upaya pengaturan pengunjung dalam visitor management dengan juga merupakan salah satu rekomendasi dari hasil reaktif monitoring UNESCO tahun 2006. Esensi physical carrying capacity ini bukan hanya soal keterawatan saja, tetapi bagaimana penerapan ini dapat memperkuat dan meningkatkan experience pengunjung," ungkapnya.
Bramantara menjelaskan bahwa
physical carrying capasity kemudian menjadi produk riset sesuai dengan rekomendasi UNESCO, sehingga
physical carrying capasity diterapkan untuk mengatur jumlah pengunjung pada waktu tertentu dalam kurun waktu satu hari.
“Sebenarnya Candi Borobudur sudah ditetapkan batas maksimalnya, yaitu 1.259 orang per hari. Namun, apa yang terjadi di lapangan tidak demikian. Ketika
peak season, seperti libur Lebaran, pernah mencapai 55 ribu pengunjung yang datang ke Candi Borobudur dalam waktu satu hari. Kami perkirakan separuh di antaranya naik ke atas candi. Dari perkiraan itu saja sudah dapat dipastikan bahwa Candi Borobudur sudah ‘kelebihan muatan’,” lanjut Bramantara.
Baca juga: Desa Wisata Dinilai Mampu Mengakselerasi Pemulihan EkonomiMenurutnya, ada empat indikator dalam penerapan
physical carrying capasity. Pertama adalah perhitungan pada luas area. Kedua, perhitungan jumlah kunjungan per hari dan per jam. Ketiga adalah lama kunjungan dan keempat adalah faktor rotasi pengunjung.
“Dalam konteks
physical carrying capasity, pada akhirnya kami juga harus melakukan klasifikasi. Candi Borobudur merupakan tempat wisata edukasi, wisata bersejarah, dan menjadi tempat ritual keagamaan,” kata Bramantara.
Dengan demikian, penerapan
physical carrying capacity memiliki
urgensi yang jelas dalam konteks visitor management. Terlebih dalam konteks
sustainable cultural tourism untuk mendukung aspek kelestarian yang juga dapat memberikan dampak kepada quality tourism.
“Tentunya penerapan
physical carrying capacity ini tidak akan lepas dari bagaimana agar pengunjung candi bisa merasakan nilai universal luar biasa (OUV) dalam melakukan
thematic tourism, yaitu mendapatkan nilai interpretasi yang mereka dapatkan dari pemandu,” ujarnya.
(sof)