LANGIT7, Beihai - Pemerintah China menerapkan
lockdown atau penguncian wilayah secara mendadak setelah adanya lonjakan kasus Covid-19 di negara tersebut. Hal tersebut kemudian membuat lebih dari 2.000 turis terdampar di kota pesisir China.
Dilansir dari
BBC, Kamis (21/7/2022), pejabat di Beihai mengunci daerah perkotaan dan memerintahkan pengujian massal terhadap 1,9 juta penduduknya selama akhir pekan. Keputusan itu dilakukan saat kekhawatiran terus berkembang soal dampak strategi "nol-Covid" China pada ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Baca Juga: Satgas Covid-19: Penetrasi Vaksinasi Booster Masih StagnanBeihai merupakan destinasi musim panas terpopuler di wilayah Guangxi Selatan, China. Otoritas setempat melaporkan lebih dari 450 infeksi Covid-19 terjadi dalam lima hari hingga 16 Juli.
Tingkat kasus itu mungkin tampak rendah menurut standar internasional. Namun, angka itu dianggap tinggi di bawah pendekatan pemerintah China terhadap pandemi.
Pada, Ahad (17/7/2022), pemerintah daerah Beihai mengatakan wisatawan yang tidak melakukan kontak dengan siapa pun atau mengunjungi daerah berisiko sedang maupun tinggi, diizinkan pergi jika dapat menunjukkan tes negatif Covid-19. "Sisanya harus tinggal di kota dan dikarantina," kata para pejabat dalam konferensi pers.
Baca Juga: Satu Bulan Terakhir, Kasus Harian Covid-19 Naik Berkali Lipat Capai 3.000Seorang turis yang sedang berlibur di Beihai mengungkapkan kekesalannya dalam komentar di platform media sosial Douyin, TikTok versi China. "Saya baru saja menyelesaikan penguncian 3 bulan saya di Shanghai. Saya baru saja datang ke Beihai untuk menghirup udara segar, apakah saya mengganggu siapa pun?," ujarnya.
Pekan lalu, angka resmi menunjukkan ekonomi di China menyusut pada kuartal kedua 2022. Penyusutan itu disebut lantaran pembatasan Covid-19 yang melanda perusahaan dan konsumen.
Baca Juga:
Jelang Kepulangan Jemaah Haji, Berikut Protokol Kesehatan yang Wajib Diikuti
Sambut Jemaah Haji, Kemenag Imbau Masyarakat Tetap Waspada Covid
Hasil Survei: Masalah Ekonomi Mendesak Diatasi Ketimbang Covid-19(asf)