LANGIT7.ID-Dari balik kemegahan tembok besar dan kedalaman filsafat timur, tersimpan sebuah catatan panjang mengenai disiplin raga yang ketat. Masyarakat Cina kuno ternyata telah lama mengenal puasa sebagai instrumen spiritual yang digunakan pada saat-saat paling genting dalam sejarah mereka. Bagi peradaban di timur jauh ini, rasa lapar yang dikelola secara sadar adalah sebuah perisai untuk menghadapi badai kehidupan.
Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar dalam kitabnya Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, mencatat bahwa puasa dalam tradisi Cina dilakukan selama beberapa hari. Menariknya, praktik ini sering kali bersifat situasional namun bersifat wajib pada diri mereka setiap kali musibah dan malapetaka terjadi. Puasa menjadi bahasa permohonan komunal kepada semesta agar bencana segera berlalu dan keseimbangan alam kembali pulih.
Namun, ketangguhan fisik dalam berpuasa mencapai puncaknya di wilayah dataran tinggi Tibet. Sebagian kelompok di wilayah tersebut menerapkan aturan yang sangat ekstrem dan tanpa kompromi. Mereka mengharuskan diri untuk tidak memakan makanan apa pun selama 24 jam secara berturut-turut.
Disiplin ini bahkan melarang seseorang untuk menelan air liur mereka sendiri. Sebuah bentuk penahanan diri yang total, yang memaksa tubuh dan pikiran berada pada titik kesadaran yang paling murni.
Praktik di Tibet ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar urusan perut, melainkan upaya untuk memutus seluruh keterikatan dengan fungsi fisik yang paling mendasar. Meskipun mereka melakukan ini di luar kerangka syariat Islam sebagaimana ayat
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ esensi dari tindakan mereka tetaplah sama: menahan diri. Di sini, puasa adalah ujian keteguhan mental dalam menghadapi tekanan alam dan keadaan.
Jejak puasa orang-orang Cina dan Tibet ini memberikan perspektif bahwa tradisi menahan diri adalah warisan purba yang melintasi batas geografis. Di Cina, puasa adalah solidaritas dalam menghadapi malapetaka, sementara di Tibet, ia menjadi meditasi fisik yang ekstrem. Keduanya membuktikan bahwa manusia sejak masa lampau selalu mencari jalan keluar dari kesulitan melalui jalan sunyi di balik penahanan nafsu.
(mif)