LANGIT7.ID, Jakarta -
Seniman asal Jakarta, Sekar Ayu Asmara, meluncurkan buku ke 12 bertajuk Rahasia Gemini pada Sabtu (6/8/2022) di acara Jali-jali Fest 2022, Jakarta.
Buku ini mengangkat kisah dua anak kembar
difabel, Wulan dan Lintang yang terlahir dengan
zodiak gemini.
"Banyak yang tidak tahu bahwa Gemini itu adalah lambangnya anak kembar. Jadi, ini memang cerita tentang anak kembar yang sebetulnya lahir di dunia masing-masing hanya punya satu kaki," ujar Sekar Ayu saat di temui
Langit7.
Dia melanjutkan, pengangkatan tema
difabel ini dilakukan untuk menyadarkan kepada masyarakat bahwa setiap ciptaan Tuhan adalah sempurna.
Baca Juga: Ma'ruf Amin Apresiasi Pertemuan Seniman dan Budayawan Muslim di Indonesia"Kalau kita meyakini bahwa Tuhan itu sempurna, kita harus juga meyakini bahwa semua karyanya dia itu sempurna," katanya.
Melalui buku Rahasia Gemini, wanita yang belajar seni secara otodidak ini berharap dapat membuka mata masyarakat terkhususnya Indonesia untuk lebih menghargai sesama.
"Diharapkan untuk pembaca sih mudah-mudahan setelah itu lebih menghargai orang lain," tutur Sekar Ayu.
Sementara, Co-Fouder dan COO Indonesian Writers INC Yuli Andyono berkata buku Rahasia Gemini merupakan buku yang penuh dengan pesan moral yang mana menjelaskan setiap ciptaan Tuhan sempurna.
Karena itu ia menyarankan orang tua ataupun calon orang tua untuk membacanya agar ketika mereka mendapatkan anak yang tidak sempurna secara fisik, mereka tetap dapat menerimanya.
"Saya mewakili Indonesian Writers INC sebagai agency-nya yang menangani buku Rahasia Gemini, buku ini penuh pesan moral yang sebetulnya berlaku untuk kehidupan kita sepanjang masa. Dibuku ini dijelaskan bahwa Wulan dan Lintang jangan diperlakukan sebagai orang cacat, tetapi juga sebagai orang yang sempurna karena setiap makhluk ciptaanNya itu pasti sempurna," kata Yuli saat di temui Langit7.
"Sebetulnya buku ini bagus sekali dibaca oleh orang tua atau calon-calon orang tua, agar nanti jika memiliki anak kembar atau ada anak yang sedikit kurang dalam arti tidak lengkap fisik atau apapun itu, mereka bisa menerima dengan legowo dan diperlakukan secara manusiawi," pungkasnya.
(bal)