LANGIT7.ID, Jakarta - Ada satu terapi yakni Anti Retroviral (ARV) yang dipercaya bisa mencegah
HIV. Upaya penyembuhan dengan cara ini termasuk kategori
terapi obat-obatan khusus.
Terapi ARV secara teratur sangat penting bagi orang
positif HIV. Pengobatan ini akan menekan jumlah virus HIV, mencegah penularan kepada orang lain, serta menjaga produktivitas sekaligus menjaga kekebalan tubuh.
Melansir dari Sehat Negeriku Kementerian Kesehatan, Ahad (28/8/2022), pemerintah menjamin ketersediaan pengobatan ARV. Adapun beberapa jenis obat ARV, antara lain Efavirenz, Etravirine, Nevirapine, Lamivudin, dan Zidovudin.
Baca Juga: Pasien Wanita dengan HIV Sembuh setelah Jalani Transplantasi Sel IndukOrang yang terinfeksi HIV sebaiknya memulai terapi ARV dini (tanpa memandang jumlah CD4) karena terbukti memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan dan ketahanan hidup pasien.
Pengobatan HIV perlu dilakukan secara bertahap dan dalam waktu yang cukup lama. Adapun efek samping dari terapi ARV, yakni pusing, sakit kepala, mual, dan diare.
Efek samping lainnya yakni mulut kering, sulit tidur, gampang lelah, penyakit jantung, kadar gula tinggi, dan kerusakan jaringan otot.
Perlu dicatat, mengonsumsi ARV harus sesuai dengan petunjuk dokter. Dokter akan memonitor viral load dan sel CD4 untuk menilai respons pasien terhadap pengobatan.
(bal)