LANGIT7.ID, Semarang - Di Kota Semarang, ada river tubing yang mengasyikkan untuk mengisi waktu liburan. Berada di RW 2 Mayangsari, Kalipancur, Ngaliyan, Kota Semarang, wisata menyusuri sungai dengan ban bekas itu, justru jadi tren warga untuk menghilangkan penat.
Wisata tersebut memanfaatkan daerah aliran sungai (DAS) Waduk Jatibarang, yang melintas di kawasan tersebut. Sebenarnya wisata yang dikelola oleh warga setempat itu sudah ada sejak 2018. Namun, sempat terhenti akibat larangan beroperasi dari Pemerintah Kota Semarang, menyusul pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 4.
Awalnya, Mayangsari River Tubing merupakan area tempat cuci truk pasir. Namun karena keindahan alam yang berada di sisi kanan kiri sungai, membuat pengelola wisata memutuskan untuk menjadikan areal tersebut sebagai destinasi wisata alternatif.
“Kemudian ada ide, kenapa tidak dimanfaatkan untuk wisata River Tubing dan membentuk kelompok sadar wisata, mengoptimalkan areal tempat cuci truk, agar bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar,” ucap Kristiyono, Bagian Pemasaran Wisata River Tubing Mayangsari, kepada LANGIT.7, Jumat (13/8).
Baca juga:
Fakta Desa Tugu Selatan, Desa Wisata Rekomendasi Kemenparekraf di Bogor Setelah terbentuk kelompok sadar wisata, daftar kepengurusan itu pun kemudian diserahkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. Yang kemudian, ditindaklanjuti dengan pemberikan surat keputusan (SK), sebagai bentuk legalisasi dari aktivitas wisata di tempat tersebut.
Pihak kelurahan dan kacamatan sangat mensupport wisata tersebut. Pada 2021, Pemkot Semarang membangun kawasan tersebut lebih cantik dan modern dari sebelumnya. Selain diberi gazebo yang cukup megah, juga dilengkapi toilet yang representatif. Sebelum ada campur tangan dari pemkot, warga secara swadaya membuat 6 gazebo dari bambu dan kayu, dan juga, tempat nongkrong dan makan, bernama Kape Pinggir Kali (KPK).
Diakui Kristiyono, sebenarnya banyak yang akan datang, namun terpaksa ditolak karena areal wisata belum dizinkan untuk beroperasi. Jika nekat melanggar, ia khawatir mendapatkan sanksi teguran dari Pemkot Semarang. Mereka yang berminat berwisata adalah wisatawan yang menggunakan jasa agen. Sebelum pandemi, banyak yang datang setiap akhir pekan.
“Minggu (15/8) besok, kami akan adakan syukuran, atas selesainya renovasi dari Pemkot Semarang. Kita melibatkan anak-anak muda dan juga orang dewasa, dalam pengelolaannya,” papar dia.
Baca juga:
Dusun Butuh Magelang, Nepal van Java di Lereng Gunung SumbingPengelola, saat ini menyiapkan 25 unit ban, dan 30 pelampung disertai dengan helm pengaman. Perlengkapan itu disiapkan untuk menyambut wisatawan jika sudah ada pelonggaran PPKM. Pelampung dan helm tersebut dulunya digunakan komunitas KSB jika ada bencana di kawasan tersebut.
Pengelola menerapkan pembayarannya melalui sistem paket setiap orang, dengan harga terjangkau. Fasilitasnya adalah makan dan minum satu kali. Makannnya berupa nasi lepen (sungai) dan wedang sendang, yakni minuman yang airnya diambilkan dari sendang Sumber Sari di kawasan tersebut dengan bahan utama serai.
Nasi lepen sendiri adalah nasi dengan alas daun jati atau pisang, dengan gudangan, atau lauk, yang biasa dimakan oleh orang-orang ketika selesai melakukan aktivitas di sungai.
Ada juga menu Udang Locok Mayangsari, berbahan udang sungai yang dimasak dengan model dipanggang menggunakan media bambu. Hampir seperti memasak botok, dengan media daun pisang . Tapi, pengunjung harus menyediakan biaya tambahan jika meminta fasilitas menu Udang Locok.
(sof)