LANGIT7.ID, Jakarta - Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyah (Inaifas), Gus Rijal Mumazziq Z, meminta masyarakat muslim tak gampang percaya terhadap klaim kewalian seseorang. Identitas waliyullah adalah urusan Allah, bukan pada level dipercaya manusia.
Level pengakuan duniawi tidak akan mempengaruhi level ruhaniah seseorang di hadapan Allah Ta’ala. Memang, kerap ditemui tokoh agama ingin dianggap wali oleh pengikutnya.
“Biasanya memang (orang itu) menampilkan profiling pribadi yang ‘wow’ secara penampilan, ditambah gelar-gelar agamis, disertai cerita mistis dan ajaib, juga pada deretan keramat-keramat yang dimiliki,” kata Gus Rijal di laman Inaifas, Jumat (16/9/2022).
Uniknya, kata Gus Rijal, orang-orang seperti kerap menggunakan teknik sulap, alat sulap, manipulasi penglihatan, gerak cepat, dan mind-control. Dia mencontohkan kasus Kanjeng Dimas Taat Pribadi.
Kanjeng Dimas dipercaya punya karomah oleh pengikutnya karena bisa menggandakan uang. Tapi di kemudian hari terbukti, aksi ‘karomah’ itu menggunakan trik sulap, didukung peralatan pesulap.
"Perkakas begini banyak dijual di toko alat sulap, juga bisa dipesan di toko daring. Soal asumsi, itu bisa dipelajari menggunakan pendekatan psikologi,” ucap Gus Rijal.
Terkait atraksi ajaib, bisa dilihat dari dua perspektif. Jika yang melakukan adalah magician, maka disebut pesulap. Bila yang melakukan adalah sosok dengan gelar kiai, syekh, habib, hingga al-Imam, maka pertunjukan itu disebut ‘karomah’.
Gus Rijal mengatakan, di kanal Youtube, ada beberapa gus yang melakukan aksi magis. Dia memakai ragam gerakan untuk meyakinkan, tarik nafas, menghembuskan tenaga, lalu botol mineral di depannya meledak.
Hal itu diklaim sebagai tindakan membakar jin. Tentu hal itu tidak benar. Itu merupakan teknik sulap menggunakan cairan kimiawi.
Begitu pula aksi penyaluran tenaga dalam ke kertas. Lalu, kertas kosong itu tiba-tiba terbakar. Itu tentu bukan karomah, tapi trik sulap.
Banyak atraksi-atraksi serupa yang secara kimiawi bisa dilacak. Itu masih dalam wilayah fisika, bukan metafisika. Teknik itu digunakan agar para pengikutnya meyakini kalau sang guru adalah wali.
“Apakah saya tidak percaya waliyullah? Ya jelas percaya. Karomah? Tentu saja percaya. Tapi enggak usah gampang terpikat dengan segala sesuatu yang tampak memukau. Biasa saja,” tutur Gus Rijal.
Wakil Rais Syuriah PCNU Ponorogo, Kiai Hanif Abdul Ghafir, pernah mengatakan, “Karomah yang nyeleneh itu ada, tapi jangan dibelokkan menjadi kesimpulan aneh bahwa setiap kenyelenehan adalah karomah.”
(jqf)